Wednesday, 24 June 2015

Dari Cerrybelle hingga Judika

Two name in Couple hand 

Setiap anak muda pasti pernah merasa jatuh cinta. Yakin kamu belum pernah??? Wah, kamu mesti nyoba sekarang Jatuh cinta itu kayak nano-nano lho, ribuan rasanya. hahaha :D

Kadang, kita tak tahu kenapa rasa cinta itu ada. Dari mana datangnya? Ya, itulah misteri. Kita bisa jatuh cinta pada siapa saja, tetangga, teman sekolah,  senior atau junior, guru, bahkan orang lain yang baru kita kenal. Kadang, kita hanya mampu memendam perasaan cinta yang menngebu-gebu dalam hati. Ya, karena ketidakberanian untuk mengungkapkan pada si doi. Alhasil, sering galau-galau sendiri sambil dengerin lagunya 9 cewek imut ini

" Aku diam diam suka kamu
 Ku coba mendekat
Ku coba mendekati hatimuAku diam-diam suka kamu
Semua kan indah seandainya aku bisa memilikimu"

Setelah lama diam-diam suka kita pun merasa memiliki keberanian sedikit untuk lebih mengenal si doi. Setidaknya untuk memastikan apakah si doi masih jomblo atau sudah ada yang punya. Kalau masih sendiri mah, alhamdulillah aja. Lha kalau ternya ta sudah punya pacar?? Mungkin lagu ini akan cocok jadi teman ngopi sendirian di beranda atau gitaran.

 "Tuhan tolong aku ingin dirinya
  Rindu padanya, memikirkannya 
 Namun mengapa saat jatuh cinta
 Sayang ayang dia ada yang punya"ꌧ

Nah, kalau kamu termasuk tipe orang yang nekat, kamu pasti tak akan peduli si doi mau punya pacar sepuluh sekalipun, asal janur kuning belum melengkung mah, masih ada jalan. Tapa kalau kamu tipe orang yang sekali maju nggak tahan banting, mungkin lagu ini kan sering mengalun di radio maupun DVDmu.

"Oh Tuhan tolonglah aku
Janganlah kau biarkan diriku
Jatuh cinta kepadanya
Sebab andai itu terjadi
Akan ada hati yang terluka
Tuhan tolong diriku..."

Akhirnya, kamu galau lagi karena cita yang bertepuk sebelah kaki, eh tangan ding (tangan ma kaki, pa bedanya???). Ya untung kalau kamu tipe orang yang gampang move on terus dapat kecengan baru lagi. lha kalau kamu tipe galon a.k.a gagal moe on dan tersiksa dengan perasaan cintamu yang tak berbalas. baiknya kiutan program meditasi sama judika sambil berdoa kek gini..

"Oh Tuhan tolonglah aku
Hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia
Walau tak bersama dia"

Gimana??? 

*catatan ini hanyalah hiburan semata tanpa memungut goceng sekalipun alias free :D :D

Sunday, 21 June 2015

Keteguhan Cintamu, Tuhan Tahu "Crazy Thing Called Love"

Selamat siang sahabat Musafir Al Ilmu,



Cinta memang sesuatu hal yang selalu indah untuk dibicarakan, baik oleh mereka yang masih kanak-kanak maupun yang sudah kakek-nenek. Cinta selalu membawa misteri kepada mereka yang saling mencintai. Cinta hadir dalam berbagai bentuk. cinta dan banyak hal yang bisa dikatakan mengenai cinta sehingga bila penulis menulis semuanya maka blog ini nggak akan muat. Sumpah!!!

Thailang movie yang berjudul "Crazy Little Thing Called Love" telah menginspirasi semua penonton bahwa cinta yang hadir dalam hati kita tak cuma perlu dirawat, tapi juga harus diupayakan untuk terus tumbuh dan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Nam, seorang remaja putri kelas satu (VII SMP) menyukai seniornya Shone, yang duduk di kelas empat (X SMA) dan terus bertahan hingga Nam kelas tiga SMP.

Hari-hari mereka diwarnai dengan kecanggungan Nam yang selalu merasa bahwa dirinya rendah di mata Shone, berkacamata, jelek dan hitam. Hal ini yang akhirnya membuat ketiga sahabatnya melakukan perombakan pada Nam dengan mendandaninya dan membaca buku "9 Metode Cinta" agar Nam bisa meuluhkan hati Shone.

Saat itu, pada acara pementsan drama dimana Nam menjadi putri saljunya, Shone tidak bisa hadir lantaran ia harus mengikuti kompetensi fotografi. Dan disana justru hadir teman Shone, Thop yang baru saj pindahan dan bersekolah bersama Shone di tempat yang sama. Thop yang melihat penampilan Nam langsung jatuh hati dan memutuskan untuk menembak. Saat ditembak oleh Thop, Nam hanya diam saja karena ia bingung harus bilang apa sehingga kediamannya diartikan iya oleh Thop. Alhasil, mereka pacaran.

Shone, tentu saja sakit hati dalam diam. Cerita selalu diiringi dengan Nam dan Shone yang saling merindukan mencintai tapi tak berani mengungkapkan satu sama lain.
Ketika pesta kelulusan, Nam dengan nelkat menyatakan cintanya pada Shone di kolam renang sekolah. Sayangnya saat itu, Shone sudah jadian dengan Kak Pin (kakak senior Nam dan teman sekelas Shone) dan ia juga sudah berjanji pada Thop untuk tidak mencintai wanita yang sama, yaitu Nam.

Akhirnya, Nam memutuskan pergi ke Amerika seperti yang dijanjikan ayahnya karena ia mendapat peringkat pertama pada kelulusan, sedangkan Shone bersekolah di sekolah sepak bola di Bangkok.

9 tahun kemudian, mereka berdua dipertemukan lagi lewat acara reality show. nam membeberkan kisah mengapa ia bisa sampai menjadi seorang desainer terkenal. itu semata-mata karena inspirasi dari orang yang dicintainya. Shone hadir dengan membawa serangkaian bunga mawar dan menyatakan bahwa ia menunggu seseorang yang kembali pulang dari Amerika. Ohhh, SO SWEET SEKALI sahabat Musafir Al Ilmu

Dari kisah diatas adapat diambil kesimpulan bahwasannya cinta kita yang tulus pasti akan didengar okeh Tuhan yang maha Pemberi Cinta. Namun untuk memastikan apakah kita layak dengan orang yang kita cintai caranya adalah dengan menguji seberapa besar cintamu pada orang itu. lewat penantian yang panjang, cinta Nam pun terbalaskan.

Friday, 5 June 2015

Mencari Tahu Di Balik Lambang Negara Indonesia


          
  Sebelum ane lanjut ke pembahasan, ane mau tanya dulu. Yang baca ini apakah sudah mengetahui apa lambang NKRI kita? Jangan jawab belum! Karena semenjak SD pun kita sudah diperkenalkan dengan lambang tersebut. Ya, burung Garuda adalah lambang negara kita.
            Namun pernahkah agan berpikir, darimana asal lambang negara kita itu?  Apakah itu fakta atau mitos belaka? Dan kenapa pendiri negara kita memilihnya sebagai lambang negara? Mari kita bahas bersama di bawah ini. Jrenggg... jrenggg...
Asal Usul Burung Garuda
            Dahulu, ada sebuah istana di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Sintang. Istana itu bernama Istana Al-Mukarramah yang merupakan Kasultanan Sintang. Pada awal tahun 1400 masehi, putri Dara Juanti pergi ke tanah Jawa untuk menyelamatkan abangnya, Demong Nutup yang ditawan oleh kerajaan Majapahit. Agar ia bisa menyusup ke dalam istana, maka ia menyamar menjadi seorang pria. Untuk membuktikan bahwa ia adalah adik Demong, maka sang patih – Patih Lohgender – mengujinya untuk berenag di sungai.
            Saat berenang, penutup kepala Dara Juanti terjatuh sehingga terbongkarlah kebohongannya. Melihat kecantikan Dara Juanti, Patih Lohgender pun jatuh hati. Ia akan membebaskan abang Dara apabila Dara bersedia menjadi pendampingnya. Dara pun setuju dengan mengajukan syarat bahwa ia harus memberiakan serahan berupa keris  berkepala naga, tiang penyangga gong besar, seperangkat gamelan, dan 40 kepala keluarga dari Jawa. Patih pun menyanggupi. Salah satu tiang penyangga gong besar berkepala garuda. Kemudian oleh Sultan Sintang, kepala garuda itu dijadikan lambang kesultanan.
            Saat perumusan lambang negara, Sultan Pontianak Abdul Hamid II mengajukan lambang Kesultanan Sintang pada Presiden Soekarno. Karena menurut agama Hindu burung Garuda adalah lambang kekuatan, keperkasaan, dan kebajikan, maka Presiden Sokarno pun menjadikannya lambang negara.
Mitos atau Fakta
            Terkait dengan sejarah kita yang dulunya pengaruh agama Hindu dari India, Burung Garuda kerap kali menjadi ikon populer di kalangan penganut Hindu.  Di dalam salah satu parwa Kakawin Mahabarata, burung Garuda adalah sosok yang menjadi musuh ular picik dan jahat. Ia juga mencuri air amarta milik Dewa Indra untuk membebaskan ibunya. Dalam relief Candi Roro Jonggrang atau Prambanan, ia digambarkan sebagai tokoh heroik yang menyelamatkan Dewi Sinta dari Rahwna.
            Itu semua adalah Burung Garuda dalam kepercayaan Hindu. Lalu bagaimana dengan faktanya? Apakah ada atau tidak?
            Para pakar burung Indonesia menemukan burung yang mirip denagn burung Garuda. Burung ini bernama Elang Jawa. Eksistensinya sudah hampir punah mengingat kederadaannya tinggal 4 ekor menurut data Taman Nasional Gunung Merapi. Burung ini dikenal sebagai pemangsa endemik sehingga keberadaanya hanya ditemui di Nusantara. Karena kemiripannya dengan lambang negara membuat ia dijadikan simbol satwa nasional menurut Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993.

Sumber: www.liputan6.com

Kenapa Allah Merahasiakan Kematian Kita?




Asslamu’alaikum wr.wb
Kali ini ane mau ngebahas sedikit mengenai perahasiaan kematian. Ane dapat inspirasi buat nulis ini pas kemarin Senin ane ikut kuliah Pendidikan Agama Islam. Yuk gan, silahkan dibaca dan semoga bermanfaat. 
Kematian adalah suatu kejadian yang terjadi sekali dalam hidup sekaligus mengakhiri hidup. Kematian terjadi pada apa saja yang bernyawa, baik manusia, binatang, maupun tumbuhan. Kita tak pernah tahu kapan kita akan mati, iya kan? Kita hanya tahu tanda-tandanya saja selama sekian hari sebelum mati, tanpa tahu penyebab yang membuat kita mati. Lalu kenapa Allah tidak menujukkan saja penyebab apa yang membuat kita berpisah dengan nyawa? Andaikata Allah menunjukkan, bukankah semua manusia akan mati dalam keadaan berbuat baik?
Itulah yang pernah terlintas di pikiran ane sebelum ane mendapatkan penjelasan dari dosen Pendidikan Agama Islam, gan. Namun kali ini ane sudah dapat sedikit pencerahan..Ceiilaahh... :D
Allah merahasiakan kematian pasti ada alasannya. Seperti dalam firmannya Surat Al Anbiya’ (21) :35 yang artinya
”Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami lah kamu akan di kembalikan.”
Kita juga tak tahu kapan dan dimana kita akan meregang nyawa. “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yag ada di rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” QS Luqman (31): 34


Bisa dibayangkan jika hari ini tiba-tiba agan bermimpi mati ketika bersentuhan dengan air atau saat makan. tentu saja agan akan takut mandi, cuci tangan, bahkan minum. jika seperti itu, agan jelas-jelas akan mati dalam arti yang sebenarnya dimana agan otor dan kekeringan tanpa air. atau misalnya agan takut karena akan mati ketika makan, jelas agan memang akan mati tapi bukan karena sedang makan, tapi nggak mau makan. 

Nah, dari penjelasan di atas tentulah kita sadar mengapa Allah merahasiakan kematian kita. Hal itu agar kita tidak berperilaku baik hanya menjelang dikunjungi malaikat Izrail dan juga tidak menyiksa diri sendiri.

Wednesday, 18 February 2015

Bayi Malang yang Terbuang

              Aku lahir di negeri antah berantah nun jauh di desa Gabus. Waktu aku lahir terjadi peristiwa yang menggemparkan dunia maya. Katanya, aku tidak menangis ketika aku lahir, tapi justru ibu yang menangis. Semua orang yang menyaksikan kelahiranku waktu itu sangat terkejut. Mereka terkejut lantaran lantaran aku tidak diketahui jenis kelaminnya.
                Aku terlahir berbeda dari kebanyakan bayi yang lahir imut-imut dan montok. Kalian mungkin tidak akan percaya dengan ukuran tubuhku waktu aku lahir. Hanya sekepalan tangan, tapi bukan premature atau malah aborsi. Aku adalah bayi yang lahir menurut priode normal.

                Namun sungguh malang nasibku saat itu. Ibu bahkan rela membuangku di gudang dengan memasukkanku di dalam kardus. Kardus itu diberi alas kain hangat dan aku di taruhnya di dalam. Tak lupa juga selimut untukku. Setiap malam aku selalu merasa kesepian dan sendirian. Aku sering menangis, namun ibu tak pernah mendengarnya karena suaraku yang pelan, yang tak bisa menjerit keras. Meski aku diberi ASI (Air Susu Instan) beberapa kali, aku tetap tidak puas. Yang aku mau hanyalah buaian kasih sayang dari ibu. Namun ibu seakan tak peduli lagi padaku. Aku bagaikan anak yang terbuang! Duhai Tuhan, apa salahku sehingga ibu tega membuangku, putranya sendiri.

                Keesokan harinya, aku merasa dingin yang begitu hebat menjalari seluruh tubuhku. Dengan kesadaran di ujung tanduk, aku mendengar ibu berkata pada seseorang. “Kalau kamu sempet, sana gih diberi susu.” Belum sempat susu itu datang, aku sudah tak sanggup lagi bernapas. Ya, jantungku melemah dan sebentar lagi nampaknya akan berhenti. Mungkin ini terjadi lantaran aku sudah memegang tiket berpetualang ke alam barzah dan pagi ini jadwal penerbanganku. Jelas jadwal itu tak bisa ditunda atau dimajukan.

                Dari atas ku lihat ibu mengubur jasadku di pekarangan rumah bersama seseorang. Orang itu bertanya, “ Ibu, kasihan sekali ya bayi kucing kita, baru tadi malam ia lahir, eh pagi-pagi sudah game over alias mati.”

                “Iya, Nak. Karena kita tak pernah tahu kapan makhluk hidup akan mati. Lagian ibu senang kok, setidaknya kucing kita tidak jadi berjumlah sepuluh. Hehe...,” kata ibu (ibu majikan si ibu kucing) dengan terkekeh sembari menutup lubang kuburan.

kucing-humor.jpg 

                  Walah, gan. Bacanya santai saja ya? Atau udah tegang di depan waktu baca judulnya?? Ini Cuma humor, gan. Maaf kalau sudah menyita waktu kalian, gan. Tapi gak papa kan? Setidaknya bisa menghilangi stress, atau malah tambah stress, gan??? biggrin


baca juga di sini => http://aisyah19.heck.in

Hilang part 1 : Perpisahan

    “Bang, dua porsi nasi plus lauknya ayam bakar, ya,” teriak Wanda pada Bang Soim ketika kami sampai di warung makan langganan kami.
            Aku sedikit bingung dan refleks melotot ke arahnya. Tumben-tumbennya ia pesan makanan di atas sepuluh ribu itu. Belum sempat aku bertanya, ia dengan senyum menjelaskan. “Tenang aja, hari ini gue dapat banyak. Ntar sekalian gue traktir. Makan enak, Man!”
            Aku tersenyum lega mendengarnya. Kepada Bang Soim aku menambahkan, “minumnya seperti biasa, Bang.”
            Wanda menoleh cepat ke arahku, kemudian berteriak pada Bang Soim. “Jangan, Bang! Masa air putih mulu, bosan gue. Gue pesen jus apel,” kemudian ia bertanya padaku, “eh, lu mo pesen apa? Tenang aja, ntar gue yang bayar.”
            “Jus Anggur.”
            “Nah, gitu dong! Sekali-kali kek kita makan makanan yang bergizi. Jangan mie mulu.”
            Bang Soim tertawa mendengar gurauan kami. Sebenarnya aku ingin tertawa juga, tapi itu justru akan menyulut masalah baru. Wanda bukanlah tipe orang yang suka ditertawakan, apalagi kalau ia sedang berkata serius.
            Setelah menunggu beberapa saat, pesanan pun datang. Tanpa banyak cing-cong, Wanda langsung melahap makanannya.ia makan cepat sekali seperti orang kelaparan. Aku sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Maklumlah, ia kan jarang makan makanan seperti ini.
            Enak juga ternyata rasa ayam bakar. Ku kira membosankan. Aku meminum jus anggurku dan menikmatinya. Sesekali aku memperhatikan keramaian di rumah makan selingkuh dan tak mau mengakuiyang berdiri megah tepat di depan kami duduk sekarang. Rumah makan itu mewah dan modern, kontras sekali dengan warung makan Bang Soim yang berada di sebrangnya. Kecil, tak terawat, dan agak reyot dimakan usia. Tragis sekali!
            Kemudian sebuah mobil Mercedes Bens berhenti di depan rumah makan itu. Ternyata isinya adalah sebuah keluarga. Terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak laki-laki dan perempuan yang sepertinya kakak beradik. Mereka nampak bahagia. Lalu dengan langkah ciri khas orang kaya, mereka masuk ke dalam pintu kaca dan lenyap.
            Melihat mereka tadi, aku jadi teringat keluargaku dulu. Andai saja waktu itu mamah dan papah tidak bercerai, mungkin aku tidak seperti ini.dan mungkin saja aku akan memiliki adik yang imut dan lucu.
‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍>>>><<<<
            “ Kring..kring...kring.....”
Aku meraba alarmku ini nih dan mematikan tombolnya. Hari ini kuharap akan lebih baik dari hari hari kemarin. Setelah tubuh puas karena jatah tidur sebanyak delapan jam,aku segera bangun dan mandi. Berpakaian rapi dan tak lupa memakai parfum.. lalu terakhir memakai sepatu.
            Rasa-rasanya dari tadi kok sepi. Mamah papah kemana sih? Atau jangan-jangan mereka bikin kejutan. Hari ini aku kan ulang tahun. Ah... apa iya? Mereka kan tak pernah ingat hari ulang tahunku, kecuali bila aku mengingatkan.
            Aku menuju ke meja makan dan tak ada makanan pun di sana. Sekarang aku yakin kalau mamah papah memberiku kejutan. Eh, tapi apa tuh di atas meja? Kok seperti kertas? Aku memungut kertas itu dan membaliknya. Di sana tertulis serangkaian kata.
            Ardi, semalam mamah dan papah bertengkar. Papahmu selingkuh dan tak pernah mau mengakui, sedangkan mamah sudah tak kuat lagi dibohongi.hari ini juga kami memutuskan untuk bercerai. Sekarang kamu pilih papah atau mamah. Jika kamu pilih mamah, maka segera kemasi barang-barangmu dan kita pergi.            Aku shock selama beberapa detik, kemudian tertawa. Mamah dan papah ternyata pandai membuat cerita. Mereka pasti mengira aku akan tertekan, lalu setelah aku benar-benar dalam mood buruk, mereka akan mengejutkanku dengan ucapan Happy Birthday. Ah, betapa menyenangkannya.
            Sepulang sekolah aku melihat mamah dan papah duduk bersebrangan di ruang tamu. Raut muka mereka seperti tak sabar menunggu sesuatu kemudian agak cerah ketika melihatku pulang. Mamah menyuruhku duduk. Ia ingin membicarakan hal penting.
            “Jadi, apakah kamu sudah membaca pesan mamah di meja makan?”
            “Sudah, Mah. Aku sudah membacanya,” jawabku datar.
            “Lalu siapa di antara kami yang kamu pilih?” tanyanya lagi.
            “Aku pilih kalian berdua,” ujarku yakin.
            “Ini bukan main-main, Ardi! Jawab yang benar! Mamah atau papah?!” Mamah memandang tajam ke arahku, menandakan bahwa beliau tidak main-main dengan ucapannya.
            Aku terdiam, tak mampu menjawab. Aku tidak mengerti dengan keputusan impulsifnya itu. Jika ini adalah mimpi buruk, ku harap aku segera bangun. Namun tetap saja ini nyata, bukan mimpi. Aku menoleh pada papah, memeinta penjelasan darinya, tapi aku tak dapatkan apa pun kecuali raut muka papah yang frustasi. Terang sudah semuanya. Hari ini, hari ulang tahun terburuk sepanjang sejarah hidupku. Tak ada kejutan, tak ada hadiah, tak ada ucapan selamat ulang tahun. Mereka, kedua orang tuaku sudah tak peduli denganku. Mereka egois.
            “Cepat jawab, Ardi! Mamah ingin segera angkat kaki dari sini!” teriak mamah kesal karena aku belum juga menjawab pertanyaannya.
            “Pah, Mah,” kataku seraya menoleh ke papah dan mamah secara bergantian. “Tidakkah kalian ingin aku bahagia? Ku mohon, jangan pergi! Aku hanya punya kalian berdua. Pah, Mah...aku butuh kalian berdua.”
            “Terlambat, Ardi. Papah dan mamah sudah tidak bisa berdua lagi. Sebagai anak, papah berharap kamu bisa menentukan pilihan terbaik di antara kami. Dan papah yakin kamu bisa memilih yang terbaik untuk dirimu sendiri.”
            “Tidak, Pah! Aku tetap pada pilihan pertama. Jika papah mamah tidak bisa bersama, maka aku tidak akan memilih salah satu. Aku memilih ini karemna menurutku ini keputusan yang adil. Aku akan memilih tinggal di apartemen.”
            “Baiklah kalau itu kemauanmu. Kembalilah pada papah kapan pun kau mau, nak.” Papahmengusap-usap bahuku.
            “Mamah juga, Ardi. Mamah akan menyambutmu dengan senag hati jika nanti kamu ingin bersamaku,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
            “Sebelum Ardi pergi, Ardi ingin mengucaokan terima kasih atas kejutan yang luar biasa yang papah mamah berikan di hari ulang tahun Ardi. Sungguh, ini adalah kejutan sekaligus hadiah ulang tahun yang tak akan Ardi lupakan. Ardi benar-benar terkejut seperti yang papah mamah harapkan. Sekali lagi terima kasih,” ucapku dengan senyum yang kupaksakan. Hati ini begitu terluka sehingga aku ingin cepat-cepat segera pergi untuk melupakan semua ini, walau aku tahu itu tak mungkin. Ya...kecuali aku amnesia.
            Setelah itu aku beranjak ke kamar dan bersiap pergi dari rumah. Sebenarnya tujuanku tinggal di apartemen ialah memberikan kebebasan pada mamah atau papah untuk menjengukku, bukan berarti aku tidak mau tinggal dengan salah satu dari mereka.
>>>><<<<
            Sudah sekitar satu bulan aku tinggal sendiri di apartemen. Waktuku sebagian besar ku gunakan untuk menunggu agar papah dan mamah berkenan menjengukku. Namu hanya kesia-siaan yang ku dapat. Mamah papah tak pernah mengunjungiku semenjak aku angkat kaki dari rumah. Alasan mereka sama, sibuk. Yang masih rutin mengunjungiku hanyalah uang mingguan dari mereka.
            Dua bulan berlalu. Sedetik pun aku belum bertemu mamah papah. Apakah mereka tidak rindu denganku? Ataukah mereka sudah tak menganggapku? Yang kubutuhkan saat ini hanyalah perhatian dari mereka, bukan uang mingguan. Berjuta-juta uang yang mereka kirim tak juga membuatku bahagia.
            Tak terasa aku sudah menjalani hidupku tanpa orang tua hampir satu tahun. Dua bulan lagi ku ada UN, tapi aku ragu apakah aku bisa mengikuti UN. Uang mingguan dulu kini jadi uang bulanan, dulu mamah aktif mengirimiku uang, tapi semenjak ia menikah lagi, uang itu bahkan tak ada. Hanya papah yang sesekali ingat padaku. Dan satu-satunya hal yang bisa membuatku bertahan adalah “aku pasti bisa menjalani ini semua.”
            Dan hari ini aku benar-benar kesal. Aku terpaksa keluar dari apartemen karena tak mampu lagi membayar. Mau bayar dengan apa kalau papah kirim uangnya pas-pasan hanya untuk biaya sekolah. Hari ini juga aku memutuskan berhenti sekolah dan menggunakan uang dari papah untuk biaya hidup sementara.
            “Papah...!! Mamah...!!! Terima kasih karena kalian berdua telah menjadi orang tua yang sangat baik, saking baiknya sampai kalian tak bisa memberiku sepijak tanah pun untuk kutinggali.” Aku berteriak keras sekali di pinggir danau dan aku merasa lega.

Bersambung  di part 2

Heliophobia




Irlandia. Siapa yang tak mengenalnya? Negara uni eropa yang berada di sebelah barat Britania Raya dengan bendera tiga warna; hijau, putih, dan jingga. Merupakan salah satu negara yang pernah dijajah Inggris selama delapan abad. Dibagi menjadi dua wilayah; Irlandia Utara dan Irlandia Selatan, yang mana Irlandia Utara adalah bagian dari Britania Raya. Republik Irlandia berbatasan dengan Laut Keltik di sebelah selatan, Samudra Atlantik di sebelah barat, dan Laut Irlandia di sebelah timur.

Di negara inilah aku menetap sebagai pedatang dari Indonesia. Tiga bulan sudah aku di sini sejak musim panas. Tidak termasuk lama bila dibandingkan dengan penduduk sini yang sudah menetap bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun.

Keberuntungan menyapaku sejak aku menginjakkan kaki di tanah dingin ini. Aku langsung mendapat tempat tinggal sederhana yang indah di sebuah desa di lereng gunung. Bekas rumah seorang gadis penjual bunga yang kesepian dan kini telah menemukan cintanya. Rumah ini mungkin dibangun leluhurnya sejak masa penjajahan. Hal itu ku ketahui dari konstruksinya yang mirip dengan rumah-rumah orang British di abad delapan belas.

Sayangnya di sini aku tinggal sendirian, tanpa teman. Melakukan rutinitas yang lama-kelamaan menjadi sesuatu yang menyebalkan; minum kopi di pagi hari, menjadi mahasiswa di salah satu Universitas di Irlandia, pulang sore atau menonton sinema hingga malam, mengerjakan tugas kuliah, tidur hingga kembali pagi. Begitu seterusnya selama tiga bulan ini. Tak ada yang lain dan hampir membuatku mati karena bosan.

Selama tiga bulan ini aku telah mengenal seluruh tetanggaku, tapi ada satu yang belum ku ketahui bagaimana kehidupannya. Dan anehnya mereka justru tepat berada di sebelah utara rumahku. Jaraknya hanya dua meter dari tembokku sebelah utara.



Asap putih bersih mengepul-ngepul di hadapanku. Meliuk-liuk seakan menggodaku. Timbul dari cairan lalu menghilang berbaur dengan udara. Cairan panas itu berada dalam cawan cantik warna biru kristal, tak lain adalah kopi hangat. Minuman wajib di pagi hari. Ditemani secangkir kopi hangat dan roti tawar dengan selai nanas, aku biasa menikmati suasana pagiku. Berdiri santai di balkon sambil menikmati pemandangan. Jauh di sebelah barat laut sana, arah jarum jam dua, sebuah gunung cantik bertengger. Gunung itulah pemandangan sekaligus background kotaku. Walau tidak termasuk gunung yang terkenal, tapi pemandangannya nampak indah dilihat dari kejauhan.

Mentari masih tersenyum malu-malu di balik semburat awan jingga. Udara dingin serasa menembus kulitku, menjalar di setiap aliran darahku, menusuk-nusuk tulangku. Temperatur di sini sekitar 13 derajat celcius. Aku menegak kopiku untuk menguangi hawa dingin. Satu dua teguk cukup menghangatkan kerongkongan. Aku mengalihkan perhatian ke jendela tetanggaku yang berada tepat di depanku. Jendela kayu dengan ukiran bunga anyelir itu seperti menyimpan rahasia. Gorden hitam dengan titik merah marun itu tak pernah tersibak, apalagi terbuka. Tak pernah sekali pun aku melihat si empunya membuka jendela itu. Bahkan hanya menyibakkan gorden juga tak apa. Setidaknya aku tahu siapa seseorang di balik jendela itu.

Memang membuat penasaran bila punya tetangga dekat rumah, tapi tak pernah melihat orangnya. Jangankan orangnya, sesenti wajahnya pun aku tak pernah melihat. Hanya suara-suara dengan nada menghardik dan mengibalah yang selalu menjadi themesong-nya. Seperti tak pernah bahagia. Begitulah hipotesaku atau anggapan sementara terhadap mereka. Percekcokan mereka tak pernah mengenal waktu, tak peduli pagi, siang, sore, dan malam, mereka selalu beradu mulut. Suara bariton dari seseorang selalu bernada menghardik dan mencela, sedangkan suara sopran -dari lawan bicaranya- hanya bisa memelas dan merintih. Aku sungguh terharu mendengarnya

Di kala aku sedang sendiri, aku sering mengira-ngira hubungan antara dua orang tetanggaku itu. Mungkin mereka pasutri, anak dengan bapak, istri simpanan, atau mungkin majikan dengan pembantu. Yah, walau ku tahu anggapan di atas mungkin tak ada kaitannya sama sekali dengan mereka. Akan tetapi, begitulah.



Suatu ketika di pagi buta, aku melihat samar-samar seseorang keluar dari rumah tetanggaku itu. Ia memakai jaket hoody yang tebal untuk melindungi dirinya dari dinginnya salju yang turun. Aku tak tahu apakah ia pria atau wanita. Dan sehari itu aku tak mendengar lagi percekcokan yang menakutkan. Jangankan teriakan, suara berdehem atau batuk pun aku tak mendengarnya. Benar-benar keajaiban, bukan?

Esoknya suasana sepi masih menyelimuti rumah itu. Aku tak ambil pusing. Lagi pula aku bisa merasa sedikit tenang tanpa pertengkaran mereka. Dan suasana seperti ini baru ku rasakan sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di sini. Kini aku tahu kenapa gadis penjual bunga itu begitu ingin cepat pergi ketika aku menanyakan rumahnya. Alasannya jelas, ia tak betah tinggal di rumahnya sendiri dan bertetangga dengan mereka.

Seminggu berlalu dan rumah itu masih tetap sepi. Rumah kuno bergaya klasik dan bercat seperti buah manggis itu menambah kesuraman suasana. Aku jadi semakin curiga. Jangan-jangan orang yang keluar rumah di pagi buta itu telah membunuh lawan bicaranya.



Hari itu turun salju sangat lebat dan aku mengambil cuti sehari dari kuliahku. Sehari, tak apalah. Asal tidak sampai seminggu. Aku, yang memang belum pernah merasakan bagaimana dinginnya salju, nekat ke beranda untuk melihat dan merasakannya. Pasti akan sangat dingin, batinku.

Seolah melihat permata yang bertengger di singgasana, mataku terbelalak dan tenggorokanku tercekat. Tak kusangka ia muncul di balik jendela ukiran bunga anyelir itu! Meremas-remas gorden jendela. Pemandangan ini ku anggap sebagai anugerah emas dari Tuhan. Akhirnya aku bisa melihatnya setelah merasa menjadi manusia paling penasaran di muka bumi selama tiga bulan.

Aku rasa dialah wanita yang mempunyai suara sopran memilukan itu. Sekarang aku tahu apa penyebab pertengkaran mereka. Pasti karena si wanita itu berkulit putih bak salju dan berpupil agak kemerahan, serta bibir tipis dengan warna semerah darah. Ya, itulah mengapa seseorang dengan suara bariton itu selalu menyebutnya "ANAK SETAN".

Ia terkejut melihatku sedang mengamatinya, dan aku akui aku terpesona olehnya. Buru-buru ia menutup gorden dan jendelanya. Ku rasa jendela itu adalah jendela kamarnya.

Aku mengumpulkan semua pengetahuan yang ku punya. Lalu ku kaitkan antara dirinya yang begitu berbeda dengan orang-orang sekitar dan dirinya tak pernah keluar rumah. Itu terbukti ketika ia hanya membuka jendela di musim salju dan tak pernah membuka jendela ketika musim gugur tiga bulan lalu. Apakah ia termasuk pengindap..... Apa ya? Kok aku lupa.



"Sedang membaca apa?" Tanya seseorang yang kemudian duduk bersebrangan dariku.

"Buku," jawabku indifferent.

"Ya. Aku tahu. Maksudku tentang apa?" Ia bertanya lagi.

Ia diam sebentar menunggu jawabanku. Beberapa detik kemudian akhirnya ia menyerah karena aku tak menanggapi pertanyaannya. Ia membalik buku yang ku baca untuk melihat sampulnya.

"Aku tak mengerti, kau membaca tentang fobia?  Bukankah kau mengambil S2 astronomi?"

"Itu bukan urusanmu," jawabku ketus dan meliriknya sepintas.

"Baiklah. Aku pergi."

Ah, akhirnya ia pergi juga, batinku.

Wanita Swiss itu membuatku kesal. Ia selalu ingin tahu apa pun tentang diriku. Di matanya seakan aku tak punya privasi.

Setelah selesai membaca buku tentang fobia, aku mendapat jawaban yang bisa mendukung hipotesaku. Menurut buku yang ku baca di perpustakaan tadi, aku menduga ia -tetanggaku- mengindap Heliophobia,  yaitu fobia atau takut berlebihan terhadap matahari. Pantas saja ia tampak kurang sehat. Ia tak pernah kena sinar matahari langsung.

Pagi ini masih seperti pagi seminggu yang lalu. Sepi. Dan aku telah siap siaga berdiri di balkonku sejak setengah jam tadi. Tak lain hanya untuk melihatnya membuka tirai yang berada tepat di depanku itu. Aku ingin sekali melihatnya untuk yang kedua kalinya. Kali ini aku akan menunjukkan wajah ramahku, bukan wajah terpesonaku saat pertama melihatnya. Tujuanku tak lain hanyalah agar aku terkesan ramah baginya sehingga aku mudah mengenalnya. Setelah itu, aku bisa menguji hipotesaku.

Namun satu jam hampir berlalu dan tak ada tanda-tanda kemunculannya. Aku dilanda putus asa. Mungkin hari ini aku tidak menjumpainya, tapi tidak untuk lain kali. Dan... Apa pun yang terjadi, aku akan menunggu!

Kali ini aku lebih pagi dari kemarin. Ku harap, sangat berharap ia muncul dari balik jendela anyelir itu. Sesekali aku memandang ke arah jendelanya di sela-sela hilir mudikku. Aku semakin tak sabar dan ingin segera melihatnya.

Seperempat jam lagi aku akan telat kuliah kalau tetap menunggunya. Jadi, ku putuskan untuk menyerah saja. Lagi pula pagi ini tidak turun salju, hanya mendung. Dan....bukankah ia dulu muncul ketika salju turun?, pikirku. Mungkin saja ia mengagumi keindahan turunnya salju, bukan panasnya sinar mentari. Ya! Pasti begitu.



Yang menjadi masalah ialah kenapa salju tak kunjung turun. Sudah tiga hari dari hari terakhir turunnya salju. Semua orang tahu kalau tiga hari bukanlah waktu yang lama, tapi bagi orang-orang yang menunggu rasanya sangat lama. Ya, dan aku termasuk salah satu orang-orang yang menunggu. Ku rasa ia juga tak sabar.

Akhirnya butiran-butiran putih yang selalu ku nantikan turun juga. Tak ambil tempo, aku segera menuju ke balkon hanya dengan kaos tipis dan celana pendek yang tadi ku pakai tidur. Aku tak peduli dengan dinginnya salju. Aku tak peduli ini pukul dua malam. Dan aku tak peduli dengan tindakan gilaku ini.

Otakku hanya dipenuhi satu pikiran, satu perasaan, dan satu harapan. Hanya gadis itu yang kupikirkan. Hanya perasaan tak sabar yang membuat jantung berdebar. Dan hanya harapan ia segera muncul dibalik jendela anyelir itu.

Senyum terkembang di kedua sudut bibirku. Yah! Akhirnya ia muncul di balik jendela kamarnya. Matanya menerawang ke atas dan mengagumi turunnya butiran-butiran putih nan indah itu. Sekilas ku lihat seberkas senyum di sudut bibirnya yang semerah darah. Akhh!!! Ia benar-benar mempesona.

Kehadiranku tak terlalu mempengaruhinya. Buktinya ia tetap berdiri di sana tanpa merasa terganggu. Ia terlalu asyik mengagumi salju sehingga ia tak peduli pada apa pun, bahkan pada diriku yang tengah berdiri di depannya dengan jarak beberapa meter saja tanpa bidang batas seinci pun. Sungguh pecinta salju. Si Heliophobia yang jatuh cinta pada salju.

@ The End @




Saturday, 17 January 2015

Barang Haram Merusakku





        Gue AlfinoAlfiansyah. Gue punya saudara tiri yang begitu disayang sama orang tua gue,namanya Kevin Pranata. Hal ini menyebabkan gue iri sama dia. Gue ngerasa nggak pernah disayang papah sejak kehadirannya. Papah lebih sering merhatiin dia daripada gue. Padahal gue anak kandungnya.
 

        Karena didorong rasa iri dan benci yang begitu besar sama saudara gue, tanpa pikir panjang gue membunuhnya. Ya. Gue membunuhnya dengan menjatuhkannya ke dalam jurang. Sampai sekarang mayatnya belum dhtemukan. Sekarang gue menyesal telahmelakukan perbuatan itu dan kini hidup gue berakhir di dalam LP di sebuah pulau terpencil di selatan Pulau Jawa. Nusakambangan, di sini gue terlempar.

FLASHBACK

        "Dasar anak nggak tahu diuntung, nggak punya malu juga! Kerjanya cuma foya-foya.Sekalah nggak bener, nilai merosot dan selalu dapat surat teguran dari sekolah.Dan sekarang malah ikutan balapan motor yang nggak jelas begitu. Kalau begini terus kamu nanti mau jadi apa Fino?"
        Papah marah-marah gara-gara gue ikutan balapan motor dan selalu pulang tengah malam atau kadang malah keesokan harinya. Papah selalu ngeliat gue dari sisi negatif.Padahal gue kayak gini supaya dapat perhatian, bukan makian.
        Gue sedih dengan sifat papah yang berubah. Gue cuma dianggap patung berjalan, seakan gue telah mati seiring kepergian mamah. Dia nggak seperti dulu yang penyayang dan penyabar. Dia lebih sering berbicara kasar daripada lemah lembut denganku. Gue kangen sama keluarga gue yang dulu
        "Daripada kamu tiap malem balapan liar, mending kamu belajar bareng Nata. Biar kamu nggakjadi anak bodoh dan hidup cuma nyusahin orang."
        Mendengar omelan papah kuping gue jadi panas. Dia tak jemu-jemunya menyebut Nata dan beda-bedain gue dengannya. Emangnya dia siapa sih sampai bisa bikin papah sayang sama dia. Dia kan cuma anak tiri. Kenapa juga dibanggain.
        Gue sebe ldengan papah karena selalu membanggakan Nata sebagai "the best son".Semua yang baik-baik selalu Nata dan yang jelek-jelek selalu gue. Gue pun pergike kamar karena telinga gue panas dan membiarkan papah ngomel sendirian sambilmarah-marah neriakin gue dengan kata-kata kasar. Gue cuek aja, peduli amat.
###
        Setelah rapi dengan seragam gue, gue pun turun dari kamar dan bersiap untuk sarapan pagi.Baru saja mau menuju meja makan, gue udah ngerasa kenyang gara-gara lihat Nata.Mood makan gue lenyap bersamaan dengan mulut gue yang tiba-tiba menguap.Apalagi ditambah dengan Nata yang memasang muka sok baik di depan papah. Guengerasa pengen muntah.
        Tanpa basa basi dan dengan sikap acuh tak acuh, gue langsung aja nyelonong pergi tanpa pamitan ke papah dan mamah. Belum sampai kaki gue ngelangkah keluar, papah udah manggil gue dan nyuruh gue pamitan. Terpaksa gue menuruti kemauan papah. Gue berbalik 180 derajat dan menghampiri papah lalu mencium tangannya. Ketika mamah meyodorkan tangannya, gue hanya melihatnya. Papah memandangku dengan mata melotot, tapi gue nggak takut. Dari pada masalah, mending gue langsung cabut.Dan sayup-sayup terdengar sebaris kalimat dari mulutnya, "Mungkin diabelum bisa menerimaku."
        "Bukanbelum bisa, tapi tidak akan pernah bisa. Boro-boro gue cium tanganmu, pegangaja ogah. Sorry ya..." bantah gue dalam hati.
###
        Kalau dibilang bandel, gue adalah anak bandel dari semua yang bandel. Faktanya guesering bolos sekolah dan lebih milih nongkrong bareng geng motor gue. Kalauudah malem, gue biasanya ikutan balapan liar atau pesta di club-club bareng geng gue. Melakukan transaski narkoba, memakai, dan berpesta ditemani parawanita-wanita surga dunia. Terus kalau udah gitu, gue pulang pagi dengan muka kusut marmut dan bau alkohol. Lagi pula hidup cuma sekali, jadi harus dinikmati sebaik mungkin. Prinsip inilah yang menyatukanku dengan kehidupan hedoni sseperti ini.
        Hari ini gue sedang bolos sekolah di salah satu rumah temen gue. Soalnya ada hal penting yang harus diselesaikan.
        Selain gue bolos karena alasan ini, gue juga bolos karena guru mapel Akutansi dan BahasaItalia yang killer abis. Setiap kali pelajaran ini, entah menanggung karma apa,gue selalu sial dan sial. Ditambah lagi kesialan itu tak pernah berkurang atau bertambah.
        "Gimana Fin, barangnya?" tanya Todi.
        "OK,"jawab gue singkat.
        "Hm,baguslah," ujarnya gembira.
        Hari ini gue transaksi bubuk putaw karena sudah tak kuat menanggung sakaw. Sekujur tubuh gue rasanya dingin seperti es balok. Inilah yang tadi gue bilang sangat penting. Lebih penting daripada yang lain.
        "Malam ini loe nggak keberatan kan, kalau gue nginep di rumah loe? Gue males pulang kerumah."
        "OK.No problem. Anggap aja seperti rumah sendiri."
        Aku tahu sementara ini ia tinggal bukan bersama orang tuanya, tetapi dengan pembantu dan tukang kebunnya. Maklumlah, orang tuanya kan punya beberapa restoran di luar kota, mungkin mereka sedang mengunjungi salah satunya. Jadi aku berani nginep di rumahnya.
###
        Pagi ini gue pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat. Gue yakin pasti papah marahin gue lagi kalau ngeliat gue kayak gini. Ah bodo amat, yang penting gue pengen cepet-cepet tidur di kasur gue yang paling nyaman.
        Sebelum gue sempat melangkah ke tangga, papah udah manggil gue dengan suara khasnya.
        "Darimana saja kamu?" tanya papah. Raut wajahnya nampak sekali sedang marah.
        Gue diem aja. Ogah jawab.
        Papah menambahkan lagi, "Pasti kamu mabuk-mabukan lagi tadi malam. Mau sampai kapan kamukayak gitu? Apa kamu baru mau berhenti kalau liat papah sudah jantungan danmiskin, hah?"
        "Papah nggak mau tau sih apa yang Fino pengen. Papah juga udah nggak perhatian lagisama Fino. Papah sudah berubah nggak seperti dulu, kejam. Semua itu karena Natasialan itu. Papah lebih menyayanginya ketimbang anak kandung papahsendiri!" Aku berteriak penuh emosi hingga kurasakan keringat di tubuhku.
        "Jaga bicaramu!" Papah emosi dan menampar pipi gue dengan keras sampai keninggue terbentur tembok di belakang gue.
        Tiba-tiba Nata datang dan menolong gue. Dia tampak kasian sama gue, seolah-olah pengen belain gue. Cih, dasar cacing! Dia pikir gue akan tersentuh lalu minta maaf atas kelakuan gue padanya selama ini. "Jangan ngarep, deh!" batin gue.
        "Lepasin gue! Dasar najis!" Gue mengibaskan tangannya dari lengan gue karena kesal.Dia diam saja mendengar makian gue. Sakit hati kali dia mendengar makian gue,tapi baguslah.
        "Fino! Bisa nggak sih kamu berbuat baik sama Nata? Dia itu saudaramu," bentak papah.
        "Maaf pah. Fino nggak punya saudara seperti dia dan sampai mati pun Fino nggak akan menganggapnya sebagai saudara Fino. Permisi."
        Gue langsung cabut ke kamar gue dan membaringkan tubuh gue lalu tertidur pulas tanpa mandi.
###
        Selama ini gue selalu mencoba buat nyelakain Nata. Pokoknya hidup gue bakalan nggak tenang kalau cecunguk itu masih hidup. Segala cara sudah gue lakuin. Tapi sayangnya tak ada satu pun cara itu yang berhasil.
        Akhirnya gue dapet ide untuk menyelakainya secara baik-baik. Gue bakal pura-pura baik dan menghentikan kebiasaan buruk gue. Terus gue bakal minta maaf ke mereka atas perilaku gue selama ini.
        Hari ini gue pengen ngajak Nata liburan ke suatu tempat. Gue ngerahasiain tempatnya supaya nggak ada yang tahu. Gue akan ngajak dia ke tempat yang jauh yang kira-kira mereka nggak tahu. Gue pergi cuma berdua dengannya.
        "Istirahat bentar ya! Gue capek, nih," pinta gue.
        "Yadeh."
        Gue keluar dari mobil dan berdiri di samping mobil untuk merefleksikan otot-otot gue yang lelah. Jalan ini amat sepi karena naik gunung. Ketika gue menoleh ke tepi jalan, Dewi Fortuna sedang tersenyum. Di sana ternganga jurang yang besar dan curam. Ini kesempatan jitu buat bunuh Nata sekarang juga. Gue jamin dia pasti bakalan mati seketika.
        Gue puncari ide gimana supaya dia bisa jatuh ke situ.
        Dan...AHHAA!
        Gue pura-pura jatuhin Hp gue ke jurang itu lalu meminta tolong padanya supaya mengambilnya.
        Awalnya dia nggak mau dan takut. Namun karena aku memohon-mohon, akhirnya dia mau juga.
        "Loe turunnya hati-hati. Gue bakal megangin tangan loe kalo seandainya loe terpeleset dan jatuh."
        Dia hanya mengangguk. Kemudian celingak-celinguk di semak-semak tempat sekiranya Hp guejatuh. Ketika dia menginjak ke salah satu batu yang berlumut, dia pun tergelincir. Gue pun reflek memegang tangannya dan menariknya.
        "Pegang tanganku erat-erat dan aku akan menarikmu," kataku pura-pura. Padahal kalau pun aku menariknya, toh dia juga bakalan jatuh karena tanganku licin akibat keringat.
        Aku mencoba menarik kuat-kuat dengan harapan ia tetap akan jatuh. Dan akhirnya.....
        "Aaarrrgghhh.......!!!!Bruukk....buk....buk..."
        Terdengar suara debuman dan jeritan ke bawah. Makin lama jeritannya makin tak terdengar.Aku bangga dalam hati.
        "Haha,mampus juga loe! Hahaha..."
        Gue pun masuk mobil dan pergi dari situ.
###
        Seminggu kemudian gue pulang ke rumah dan mengaku kalau Nata hilang sewaktu kami menjelajahi hutan. Mamanya pingsan dan papah kaget. Papah memarahiku habis-habisan. Lalu mereka sibuk menghubungi polisi untuk mencarinya.
        Pencarianpun dilakukan secara besar-besaran. Seminggu. Dua minggu. Sebulan. Dua bulan.Setengah tahun. Nata belum juga ketemu. Gue pun berpikir kalau dia emang bener-bener mati. Baguslah kalau emang itu yang terjadi. Setidaknya nggak adalagi benalu dalam hidup gue untuk selama-lamanya. Hahaha...
        Namun tetap saja gue nggak bisa ngerasain kenikmatan hidup karena gue kena razia narkoba sewaktu gue pesta ekstasi merayakan kemenangan.
        Dasar SIAL!!!
        Atau emang sejak lahir gue udah bawa gen sial???

TAMAT




Followers