Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

Sunday, 17 March 2019

Resensi : Ku Peluk Rasa Sakit Hingga Tak Ada yang Sanggup Menyakitiku



Judul novel : Tentang Kamu
Penerbit : Republika Press
Tahun Terbit : 2016
Penulis : Tere Liye
Genre : Novel

Benar kata pepatah, dont judge a book by the cover. Awalnya, ku pikir novel berjudul “Tentang Kamu” karangan penulis kenamaan Tere Liye ini bercerita tentang kisah cinta yang muluk-muluk, hampir seperti “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah”. Nyatanya, novel ini justru mengangkat semacam biografi seseorang yang berjuang keras dalam memperoleh cita-citanya. Berhati bersih, penyabar, dan selalu menerima apa pun yang menimpa dirinya, semenyakitkan apa pun.

Novel ini diterbitkan oleh Republika pada Oktober 2016 dengan jumlah halaman vi + 524 halaman. Butuh sekitar tiga hari untuk menyelesaikannya. Sebelum ke analisis isi novel, alangkah baiknya bila kita mengetahui terlebih dahulu sinopsisnya.

Adalah Zaman Zulkarnaen dari Thomson & Co. yang bertugas sebagai seorang pengacara harta warisan senilai 19 triliun poundsterling setelah si pemilik meninggal dengan damai di panti asuhan. Pemilik tersebut bernama Sri Ningsih. Demi menemukan siapa pewaris harta warisan tersebut tersebut, Zaman harus menelusuri kisah hidup Sri satu persatu mulai dari tanah kelahirannya hingga kematiannya.

Tidak mudah memang. Berbekal buku diary yang diberikan oleh pengurus panti jompo, ia memulai pencarian di Pulau Bungin, tempat di mana Sri lahir, berpuluh tahun yang lalu. Menanyai semua orang di salah satu pulau terpadat tersebut demi mengetahui bagaimana masa lalu Sri. Berhari-hari ia mencari hingga diambang keputusasaannya, ia menemukan seseorang yang mampu menjelaskan detailnya dari lahir hingga pindah dari pulau tersebut.

Sri kecil adalah perempuan yang tangguh. Ia tidak pernah melihat rupa ibunya sejak lahir. Hidupnya berkecukupan bersama sang ayah hingga sang ayah menikah lagi. Namun sayang, ayahnya meninggal ketika melaut, padahal ayahnya sudah berjanji akan membawakannya sepatu baru, hadiah ultah Sri yang ke sembilan. Sungguh malang, hadiah tersebut tak pernah datang. Semenjak kepergian sang ayah, Sri kecil menjadi tulang punggung keluarga atas perlakuan ibu tiri yang sangat membencinya selama lima tahun.

Sri remaja kemudian pindah ke Surakarta bersama sang adik setelah mengalami musibah kebakaran rumah. Ibu tirinya meninggal. Ia kemudian belajar di salah satu pesantren di sana hingga menjadi guru. Ia juga bersahabat dengan putri bungsu Kyai dan Lastri, salah satu santriwati kesayangan Kyai yang juga menjadi sahabat putrinya. Pada episode kali ini setidaknya kehidupan Sri lebih baik.

Penghianatan terjadi di antara ketiga sahabat tersebut. Hingga peristiwa yang menyakitkan tersebut menyebabkan keluarga Kyai hancur dan tinggal sahabat Sri dan suaminya yang hidup. Lastri sendiri dipenjara atas perilakunya tersebut.

Sri Ningsih memutuskan merantau ke Jakarta untuk menghilangkan luka tersebut. Ia sudah tidak memiliki siapa-siapa. Adiknya meninggal dalam kekejaman pembantaian yang dilakukan Lastri beserta kumpulannya.

Di Jakarta ia mencoba mengadu nasib. Perlu penolakan ratusan kali dan pencarian kerja selama tiga bulan hingga akhirnya ia menemukan pekerjaan pertamanya di sana. Pekerjaan itu justru berada tak jauh dari tempatnya tinggal. Hidup ini kadang memang selucu itu, kita sibuk mencari hingga jauh padahal sebenarnya apa yang kita cari ada di sekitar kita. Ya begitulah, nikmati saja prosesnya. Dan Sri selalu mampu menanggapinya dengan syukur, tak pernah mengeluh, dan pantang menyerah.

Pekerjaannya kemudian berangsur membaik, mulai dari guru dan kuli kasar toko, penjual nasi goreng, rental mobil, karyawan pabrik hingga ia mampu mendirikan pabrik sendiri. Semua itu bertahap dan ia selalu mampu belajar dari jelinya pengamatan dan pengalaman. Meskipun ia tidak memiliki pendidikan formal yang tinggi, namun ia sangat cerdas.

Singkat cerita, Sri kemudian menjual perusahaannya kepada pesaing dan ditukarkan dengan saham senilai 1% dari keseluruhan perusahaan multinasional. Ia kemudian melarikan diri ke London dan di ujung kisahnya ke Paris. Setelah ditelusuri, kepergian Sri yang selalu tiba-tiba tersebut rupanya disebabkan oleh pengejaran yang dilakukan Lastri. Lastri mengancamnya akan menyakiti siapa saja yang dicintainya dan membuatnya hancur. Ia sangat dendam kepada Sri atas perbuatan Sri yang mengungkapkan kebenaran saat Lastri diadili kala peristiwa di Surakarta.

Sosok Sri adalah perempuan yang luar biasa sabar. Ia bahkan memiliki hati yang pemaaf, mudah menerima, dan selalu positif dalam menghadapi segala hal yang terjadi di hidupnya. Ia memaafkan kesalahan Lastri terhadap dirinya, bahkan ia masih tetap menganggap Lastri sebagai sahabat meskipun Lastri telah membuatnya kehilangan sang adik. Ia juga menerima apapun yang telah menjadi garis hidupnya; kehilangan ibu, ayah, adik, bayi-bayinya, dan orang yang amat dicintainya. Di setiap kejadian, ia mampu menerimanya dan berdamai dengan keadaan yang membuat orang-orang di sekelilingnya kagum akan kekuatan hatinya.

Sebagian kisah hidup yang dituturkan oleh pengarang berisi perjuangan dan kerja keras yang tak pernah padam. Ia mampu menjadi orang dengan harta warisan sebesar 19 triliun puondsterling tentu bukanlah hal yang serta merta. Ada peluh, rasa sakit, keberanian, dan terobosan yang membuatnya mampu menjadi seperti itu. Tentu tidak mudah, namun Sri tak pernah menyerah walau selangkah.

Ia juga tetap sederhana meskipun telah memiliki kekayaan sebesar itu. Ketika ia melarikan diri ke London, ia justru meninggalkan perusahaan dan semua kekayaannya. Pilihan terakhirnya jatuh pada pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih bus kota London. Meskipun pada akhirnya, atas keahlian yang dimiliki ia pun diangkat sebagai sopir bus. Di London ia pun tinggal di pemukiman sederhana yang dikenal dengan sebutan Little India. Di sana ia menemukan keluarga angkat yang sangat menyayanginya hingga menjadi saksi bagaimana kisah cinta dan kehidupan rumah tangganya.

Wanita bertubuh pendek, coklat, dan gempal ini adalah wanita yang tangguh dan kuat hati. Rumah tangga Sri bisa dibilang kurang bahagia. Meskipun ia memiliki Hakan, pemuda Turki yang amat mencintainya. Ia harus kehilangan dua bayinya; pertama karena lahir prematur, kedua karena adanya kelainan sehingga bayinya meninggal 6 jam setelah dilahirkan. Namun, Sri beberapa bulan kemudian tetap tabah dan menjalani rutinitas sebagai sopir bus. Semua itu berjalan hingga Hakan pergi mendahuluinya karena sakit.

Zaman kemudian menelusuri kisah hidup Sri melalui petugas panti jompo, Aimme. Wanita Paris itu rupanya sesuai dugaan Zaman –menyimpan beberapa kenangan Sri dan foto kegiatan panti–  sehingga dari sana Zaman mampu mengorek kisah Sri selama di panti. Ia pun akhirnya menemukan di mana Sri menulis siapa-siapa yang berhak menerima harta warisannya. Surat keterangan tersebut justru yang telah di bawanya ketika ia sampai di rumah Nuraini. Amat sangat dekat. Sayang sekali, ketika perkara hampir selesai, justru pihak hukum lain mengklaim bahwa seseorang telah menemukan saudara kandung Sri, Tilamuta.

Nah, untuk mengetahui akhirnya bagaimana harta warisan Sri dapat diselesaikan, alangkah baiknya jika kalian membaca sendiri. Tulisan ini hanyalah secuil pendapat dan bukan berarti telah mencakup seluruh isi yang ada di dalamnya. Novel ini sangat bagus dibaca oleh wanita di semua kalangan, terutama yang memiliki cita-cita tinggi agar selalu termotivasi.

Resensi: Aku Menyayangimu, Mama



Judul Buku : Hendrick
Penerbit : Bukune
Tahun terbit : 2016
Penulis : Risa Saraswati
Genre : Novel

Namanya Hendrick, salah seorang sahabat Risa yang menjadi tokoh utama dalam novel berjudul sama yang diterbitkan oleh Bukune pada 2016. Masih tentang hantu, novel ini mengupas kehidupan Hendrick Konnings semasa hidupnya. Ia hidup pada perkiraan tahun 1880an, sebelum Nippon datang menyerang seperti yang terjadi pada beberapa sahabat hantu Risa. Namun, kisah hidupnya tak kalah seru dan karena itulah saya berkeinginan untuk menceritakan kembali secara sederhana versi saya.

Ayahnya bernama Jeremy Konnings dan ibunya adalah Nina Konnings. Ayahnya adalah seorang jenius berkebangsaan Netherland, sedangkan ibunya berkebangsaan Perancis. Sebagai keturunan pengusaha dan pemilik perkebunan anggur, keduanya bisa dibilang bukan orang sembarangan. Mereka termasuk orang terhormat yang berada di Hindia Belanda untuk tujuan penelitian pohon kina. Di Hindia Belanda  pula Hendrick lahir. Jadi, meskipun ia merupakan bangsa Netherland, ia tak pernah sekalipun menghirup udara tanah airnya hingga kematian menjemput.

Hendrick tidak memiliki masalah dengan teman sekolah maupun orang-orang disekelilingnya. Bahkan bisa dibilang kehidupannya sangatlah ceria. Ia memiliki seorang sahabat bernama Hans yang ia temukan saat memanjat benteng belakang rumah. Saat itu Hendrick sedang kecewa dengan ibunya yang jahil atas leluconnya yang berlebihan. Sifat inilah yang menurun kepada Hendrick. Hans merupakan sahabat sekaligus teman bermain sehari-hari Hendrick.

Semuanya berjalan baik-baik saja hingga pada suatu hari Jeremy meninggal secara dadakan ketika sedang asyik-asyiknya berlibur di pekebunan bersama keluarga dan Hans. Nyonya Nina Konnings mendadak depresi berat setelah kematian suaminya. Ia justru menyalahkan Hendrick secara berlebihan atas peristiwa tersebut. Dirinya bahkan membencinya dan tidak menganggapnya sebagai anak lagi. Hendrick yang frustasi kemudian meminta Helena untuk menghibur ibunya. Helena adalah perempuan sebayanya yangtidak sengaja menabraknya ketika berangkat sekolah bersama Hans. Sejak saat itu Helena menjadi akrab beberap saat, sebelum akhirnya memilih untuk pergi lantaran tidak ingin merebut perhatian Nina dari Hendrick. Helena datang dan di saat itulah Nyonya Konnings menjadi-jadi dalam membenci Hendrick. Ia menganggap Helena sebagai putri pertamanya yang meninggal bernama Angeline. Semenjak itu, Helena selalu di sampingnya dan Hendrick terlupakan.

Meskipun ia tidak dianggap sebagai seornag anak oleh ibu kandungnya sendiri, ia tetap senang karena setidaknya Helena telah mengembalikan semangat baru untuk ibunya. Ibunya tidak lagi murung dan menangis di pusara ayahnya berhari-hari. Meskipun yang membuat bahagia ibunya bukan dirinya, melainkan Helena.

Terkadang, ada rasa kehilangan ketika ia tidak pernah diperhatikan. Beruntungnya Hans dan Omanya selalu berbaik hati. Oma dan Hans selalu menghiburnya saat ia sedang bersedih lantaran ibunya seringkali membentak jika ia melihatnya sedang berdekatan dengan Helena. Biar bagaimanapun Hendrick masih anak-anak.

Puncaknya ialah ketika Hendrick sakit keras dan ibunya tetap tak peduli. Ia bahkan menderita sakit yang tidak diketahui penyebabnya dan semakin hari semakin memburuk. Seringkali dokter hanya mampu memberinya obat bius hanya untuk meredakan sakit yang dideranya. Dalam ketidaksadarannya, Hendrick seringkali memanggil ibunya, meminta dipeluk dan disayang seperti halnya dulu. Bahkan ketika di bawa ke rumah sakit, Nina Konnings tak juga ikut serta. Nina Konnings benar-benar telah mengalami depresi akut.

Jeremy sang ayah tidak tinggal diam. Ia mendatangi Nina Konning dalam mimpinya ketika ia habis menangis seharian karena Helena mengatakan dengan tegas bahwa ia bukan Angeline dan memutuskan pergi. Dalam mimpi tersebut ia tersadar kembali akan Hendrick. Malang sekali, di saat ia sadar waktu Hendrick sudah tidak lama lagi. Hendrick pun meninggal dalam pelukan ibunya. Dan tak lama setelah itu, Nina Konnings memilih bunuh diri.

Kisah ini bisa dibilang cukup menyedihkan, menurutku. Seorang ibu yang begitu depresi malah menyalahkan anaknya sendiri, seseorang yang seharusnya diperhatikan dan disayang karena tinggal dirinyalah satu-satunya anggota keluarga. Kita memang tidak bisa menyalahkan Nina Konnings sebagai ibu lantaran apa yang dialaminya ialah murni kesalahan mental. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ketika ia depresi akut, ia telah melakukan banyak hal yang menyakiti buah hatinya hingga jatuh sakit.

Betapa kita amat beruntung jika dikaruniai keluarga yang lengkap dan saling menyayangi satu sama lain, meskipun kadang masih dalam kekurangan secara material. Perlu diingat, bahwa jauh di luar sana masih ada orang-orang bergelimang harta, memiliki kasta yang tinggi, dan selalu dihormati namun tidak pernah merasakan indahnya kehangatan keluarga.



Monday, 25 February 2019

Cerpen: Pojok Sawah Mbah Dirman


“Barangkali, bagi sebagian anak kota, sawah bukanlah hal yang akrab di telinga mereka. Jangankan akrab, pernah melihat secara langsung saja sudah suatu hal yang istimewa. Tidak dipungkiri anak-anak kota kini lebih senang berteman dengan gawai, benda tipis yang menyajikan banyak hal menyenangkan dan tak perlu repot mengoperasikannya selagi masih memiliki dua jempol.”

“Tapi, jika anak desa yang dulu selalu bermain di sawah kini seolah lupa akan tempat mainnya, sungguh aku tidak terima. Betapa gampangnya mereka menganggap ndeso orang-orang yang bekerja di sawah. Padahal, biaya mereka merantau ke kota itu ya dari mutiara sawah yang diolah sedemikan rupa oleh orang tua mereka. Mereka pikir mereka siapa sampai melupakan asal usulnya? Dasar tidak tahu diri. Kalau saja orang tua mereka tak mau dan tak mampu bekerja mati-matian di sawah, gigit jari mereka itu. Tak bisa kuliah, tak bisa merantau, tak bisa menggapai  apa yang seringkali mereka sebut ‘mimpi’.”

Sore itu, aku dan Endro sedang berjalan menyusuri galengan sawah. Celotehan Endro menjadi pemanis di sela-sela jalan-jalan kami. Di bawah kaki kami padi hijau melambai-lambai manja seperti gelombang lautan emas. Tangkai daunnya mengingatkanku pada masa saat dulu aku membantu emak memanen. Sekarang panen sudah tidak seramai dulu karena cukup dengan menggunakan mesin.


Kita berjalan menuju sebuah gubuk yang tak jauh dari rerimbunan pohon bambu. Ya, di desa kami bambu selalu ditanam di pinggiran desa sebagai pembatas antardesa. Biasanya letaknya berada di luar pemukiman penduduk dan berada di pinggiran sawah. Kami lantas duduk di gubuk tersebut. Endro meletakkan kompresan yang berupa tangki ke sisinya. Kami pun berdiam sejenak sembari memandangi matahari yang hampir tenggelam. Lembayung di ufuk barat sungguh indah dalam pandangan, membingkai sepucuk gunung Muria di sisi  barat laut.

Endro nyerocos kembali, “Aku tak tahu apa yang ada di pikiran anak-anak zaman sekarang. Kebanyakan dari mereka telah berubah menjadi angkuh, tak mau menjadi petani seperti aku. Bahkan ada yang merasa tidak level jika harus panas-panasan di sawah. Ya, aku memang tidak mampu seperti mereka yang pergi ke kota dan menelan bulir-bulir ilmu yang nikmat itu seperti dirimu.”

“Sudahlah, En. Cerocosanmu itu sudah kudengar berkali-kali setiap kali aku pulang kampung,” kataku meredam emosinya agar tidak terus menerus menumpahkan kekesalan.

“Lagipula, siapa lagi yang mau mendengarkan keluh kesahku. Cuma kau satu-satunya mahasiswi temanku yang masih mau menengok sawah.” Aku akui kebenaran ucapannya.

“Iya, tapi bukan berarti yang tidak menjenguk itu tidak mau terlibat dengan segala pengolahan sawah. Bisa jadi mereka memang tak punya sawah. Bisa jadi pula orang tua mereka yang melarang.”

“Ahhh, kata terakhirmu mengingatkanku pada pesan emakmu sebelum mengajakmu pergi.”

Emak memang melarangku ikut Endro mengompres padi. Katanya, tak perlu bekerja terlalu keras dan kasar seperti itu. Kalaupun bersikeras ikut, aku hanya boleh menonton saja.

“Hey, In. Kalau satu desa ini pemikirannya seperti emakmu, sudah bisa dipastikan petani tak punya generasi penerus di masa depan.”

“Siapa bilang? Sarjana pertanian banyak sekali. Berjubin!” kilahku.

“Iya sih, tapi kau bisa menghitung sendiri jumlah sarjana pertanian dengan yang bukan pertanian. Bahkan satu desa ini yang sarjana pertanian paling cuma satu dua, kebanyakan memilih jurusan lain yang enak kalau bekerja kelak.”

“Ahh, obrolanmu sudah setingkat mahasiswa saja, En.”

“Lahh, faktanya memang begitu kok. Aku kan cuma mengamati. Orang seperti aku ini kan banyak nganggurnya, jadi ya sering mengamati perilaku orang-orang sekitar. Hahaha...”

“Nganggur apanya, sehari-harimu kau habiskan di sawah katamu. Itu juga suatu pekerjaan meskipun tidak menghasilkan uang. Hasil itu kan tak selamanya berupa uang.”

“Tepat. Tapi di dunia materialistik seperti ini, sukses adalah punya banyak uang, In. Orang-orang tani seperti kami tetap dianggap miskin entah sampai kapan.” Meski cuma lulusan SMA, tapi Endro memiliki pengetahuan dan daya analisis yang tajam. Sayang sekali, temanku yang lulusan terbaik itu tidak diperkenankan kuliah karena harus merawat simbahnya yang renta dan menggantikannya bekerja. Sanak familinya jauh dan hidupnya juga pas-pasan, kedua orang tuanya telah meninggal. Padahal, di zaman sekarang ini, pasti tidak sulit bagi anak secerdas Endro untuk kuliah.

“Jangan salah, En. Kau kira makan nasi tanpa harus membeli beras itu bukan kaya? Orang-orang kota sana makannya juga beras, mereka harus beli terlebih dahulu. Sedangkan kau, petani, tak perlulah membeli.”

“Benar juga sih, tapi kebutuhan hidup kan tidak cuma makan saja, In. Kita perlu uang juga untuk memenuhi kebutuhan lain. Kalau jadi tani, punya uangnya kan cuma saat panen. Itu pun kalau panennya dijual, kalau tidak? Intinya harus punya kerjaan sambilan kan, In?”

“Relatif. Maksudnya tergantung En, dari sudut mana kamu memandang. Kalau kamu merasa sudah cukup segala kebutuhannmu dengan menjadi petani, ya tak perlu kerja sambilan. Tapi kalau kamu merasa kurang atau memang tuntutannya begitu, ya memang harus punya kerjaan sambilan.”

“Iya sih, aku juga punya kerja sambilan yang ku kerjakan disela-sela kesibukanku di sawah. Ahh, betapa beruntungnya dirimu, In. Bisa kuliah jadi punya wawasan yang luas.”

Tidak apa, En. Petani juga pahlawan bagi negeri, meskipun tidak berjuang mengusir penjajah, kalian kan pemasok utama bahan makanan pokok.” Aku tersenyum padanya.

“Seneng sih dengernya, tapi orang-orang sana tidak banyak yang menyadari jasa petani negerinya, In. Coba deh amati, kalau harga bahan makanan mahal mereka protes tapi kalau harga sangat murah kan kita rugi. Belum lagi panen gagal, yang tanggungjawab cuma petani doang, padahal mereka juga ikut makan kan?”

Aku mengangguk-angguk membenarkan ucapannya dan terlintas sekelebat sebuah ide di kepalaku.

“Menurutku, harus ada asuransi panen buat petani, ya nggak? Jadi, petani itu kalau panen berhasil kan hasilnya melimpah ruah ya. Alangkah baiknya jika hasil dari sebagian panen itu dimasukkan di dinas pertanian atau lembaga apapun yang mengurusinya guna menunjang asuransi panen dalam bentuk uang atau modal, maksudku kalau semisal padi ya berupa benih padi. Jadi kalau pun panen gagal, mereka bisa mendapatkan modal kembali dari asuransi panen mereka yang berhasil. Menurutmu gimana, En?”

“Wah, itu ide bagus, In. Mumpung kamu mahasiswa, sana segera lakukan aksi, jangan cuma ditulis di artikel saja. Hahahaha...”

“Eh, tahu aja kamu En kalau aku suka nulis artikel.”

“Lha iyalah, dari SMA dulu juga sudah kebiasaan kok. Nah, nanti kalau kamu mau memperjuangkan nasib kami yang petani ini, aku ikut membantu deh, kan aku petani. Hehehe...”

“Oke siap, komandan!”

Dan kami pun tergelak penuh tawa senja itu di tengah hamparan padi yang menghijau, saksi bisu percakapan kami.

TAMAT

Thursday, 25 January 2018

Nyanyian Petani

Another rice paddy in Vietnam. An iconic symbol that comes to mind when people hear about Vietnam.
Petani sumber pinterest.com


            “Lir ilir....lir ilir tandure wus sumilir
            Tak ijo royo-royo
            Tak sengguh temanten anyar..”

            Lagu Ilir-Ilir itu bukan sekedar lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak di sekolah, dulu. Lebih dari itu, memiliki makna yang dalam bagi Buke[1], seorang petani keturunan. Sejak kecil, Buke sudah berkawan karib dengan sawah. Buke tumbuh dalam asuhan sawah dan kini beliau ganti mengasuhnya. Dalam asuhannya, sawah kami telah melahirkan jutaan bulir padi.
            “Nduk..” panggilnya kala itu, “jika nanti kau jadi orang penting, pejabat, atau pemegang kuasa sekalipun, jangan pernah lupakan petani,” ingatnya kemudian.
            Aku tidak segera menanggapi, masih mencerna maksudnya sembari mengikutinya jalan di pematang.
            “Kami hanya orang kecil, Nduk. Orang yang kadang dipandang rendah profesinya. Banyak yang tidak mau mengakui jerih payah kami. Banyak pula yang tidak mau menjadi seperti kami. Padahal, nasi yang mereka makan itu dari anak-anak kami, yang kami besarkan setulus hati.”
            Aku masih setia mendengarkan. Biarlah Buke menumpahkan segala apa yang dirasakan. Aku tahu beliau ingin curhat padaku. Lalu kami berhenti sebentar. Buke melihat beberapa batang padi yang mulai “meteng” –istilah di mana padi hendak berbunga.
            “Alhamdulillah, padinya hendak berbunga, wis do meteng, Nduk. Betapa Buke ingat perjuangan dari menyemai benih hingga sejauh ini. Meski Buke tahu ini belum purna, durung rampung.Buke mengusak-asik secara perlahan untuk memperhatikan padi-padi yang hendak berbunga itu. Lalu matanya menyapu ke seluruh sawah kami.
            “Kau pasti tidak tahu, Nduk. Lha wong kamu jarang pulang, kuliah di Semarang. Dulu, waktu sebelum tandur, hujan jarang turun. Sawah mengering kurang air. Akhirnya benih padi disebar. Giliran sudah disebar, malamnya hujan. Owalah tobat, kentir[2] semua benih padinya, Nduk. Belum sempat bertunas pula.”
            “Mau tak mau aku dan Pake[3] harus menyebar ulang. Setelah menyebar yang kedua kalinya, alhamdulillah tidak turun hujan lagi. Padi tumbuh dan Buke tinggal menyulam[4]. Baiknya, Pake kadang sepulang dari kerja mampir sebentar ke sawah, membantu. Ya tahu sendirilah, lha wong Buke tidak mocokke[5] petani penggarap, nggak ada uang. Lebih baik dikerjakan sendiri, sedikit-sedikit tak apalah.”
            Aku mulai terharu mendengar cerita Buke. Betapa susah proses menanam padi. Sedangkan di sana, di luar sana, aku masih sering menemukan orang membuang nasi seenaknya. Bahkan, aku sendiri pun kadang melakukannya. Tanpa merasa berdosa.
            “Buk, duduk di sana aja, yuh. Sepertinya agak nyaman sambil makan singkong goreng,” ajakku beristirahat sejenak sehabis membatunya menyulam padi.
            “Boleh, ayuh. Nanti kalau sudah capek kita pulang.”
            “Ahh, capek apanya? Ini juga baru jam sembilan,” kilahku menenangkan. Masa iya aku baru segini aja nyerah.
            Kami berdua pun menuju tempat yang aku maksud tadi. Di pinggir pematang yang agak lebar, kami duduk di atas jerami dan mulai menikmati bekal seadanya. Tak apa, justru yang seadanya ini malah enak rasanya.
            Beberapa tetangga sawah menegur kami yang sedang istirahat sejenak. Katanya, putrinya kok ya mau-maunya diajak ke sawah. Bagaimana kalau nanti hitam? Kasar tangannya? Toh dia tidak biasa. Begitu seloroh mereka, tentunya dengan bercanda. Dan dengan santai ibukku menanggapi,
            “Lho, justru karena itu biar dia tahu bagaimana kerasnya hidup. Toh orang tua begini untuk membiayai kuliahnya. Yaa, biar tidak nerima enaknya saja, Budhe,” jawab Buke santai yang langsung disetujui si penanya. Aku hanya tersenyum saja.
            “Jadi petani itu nggak gampang,” ucap Buke di sela-sela waktunya mengunyah, “rasanya aku nggak ikhlas kalau lihat orang seenaknya buang nasi. Nggak tahu apa, untuk jadi nasi perjuangannya begitu panjang.”
            “Memang benar sih, Buk. Orang kalau nggak lihat langsung mana tahu perjuangan para petani. Mereka mah punya banyak duit, bisa beli. Lha coba kalau yang dibeli nggak ada gara-gara petani mogok tani, mau makan apa mereka. Tiwul? Gaplek? Jagung? Mana doyan mereka,” tambahku, membelanya.
            “Lha ya. Mulai dari menyemai benih, menanamnya, merawat dan menyiangi, memanen, menjemur, menggilingkan, hingga ditanak jadi nasi butuh proses yang sangat panjang.”
            Aku kemudian teringat suatu memori dimana aku membantu menjemur padi. Ada suatu masa dimana cuaca panas sekali, lalu mendadak mendung dan hujan. Mau tak mau kami harus balapan dengan hujan agar padi yang dijemur tidak basah.Terkadang kami pun main petak umpet dengan ayam-ayam peliharaan tetangga atau milik sendiri. Kalau kita di luar ayam sembunyi di balik semak, giliran kami masuk rumah, eh mereka datang menyerbu. Belum lagi hasil kais-kaisan ayam di padi yang dijemur kadang tercecer ke mana-mana, hal yang paling menyebalkan.
            “Yang penting itu punya sawah, aman. Kalau misal nanti krisis makanan pokok, setidaknya para petani masih bisa makan hasil panennya sendiri.”
            “Betul itu, Buk. Kalau kaya bagusnya investasi sawah aja ya. Hehehe...”
            “Memang, kalau dilihat kerjanya nggak kelihatan. Nggak daapt duit pula. Soalnya kerja petani ya begini ini, musiman dan tidak ketara. Paling sibuk kalau waktu menanam dan panen, selain itu ya cuma bolak-balik ke sawah. Memupuk, memastikan terhindar hama, menata saluran irigasi.”
            Di sela-sela santai kami yang bermandikan mentari pagi, aku melihat benda berkilat di pinggir pematang. Sontak aku kaget, rupanya itu seekor ular sawah.
            “Biarin aja,” kata Buke. “Kehadiran mereka sangat mulia di sini, membasmi para tikus. Seperti KPK yang membasmi politikus. Bedanya kalo KPK banyak caranya, kalau dia mah tinggal hap, tikus ditelannya sudah. Hehehe..”
            “Bener juga sih, Buk.” Aku ikut tertawa.




[1] Panggilan untuk Ibu
[2] Terseret air hujan
[3] Panggilan untuk bapak
[4] Menanam padi kembali dengan cara memisahkan rumpun yang rapat ke tanah yang masih lengang/kosong di satu petak sawah. Tujuannya agar padi tumbuh rapi, tidakterlalu rapat/longgar.
[5] Menyuruh tani penggarap untuk melakukan kegiatannya.

Wednesday, 24 January 2018

Sang Dewi Perdamaian

airmid goddess of healing | Airmid – Celtic Goddess of Healing and Herbal Lore
Dewi Perdamaian, sumber : pinterest.com

“Namaku Eirene. Aku lahir di tengah kerusuhan Nagasakti, kerusuhan yang telah menewaskan banyak korban. Ribuan. Ayah dan ibu adalah golongan minoritas yang menjadi koban. Mereka dan beberapa teman berlarian ke sana-kemari seperti lebah kehilangan rumah.”
***
Waktu itu adalah waktu kelahiranku. Kandungan ibuku baru menginjak 9 bulan lebih. Pukul 01.00 dini hari, perut ibu berkontraksi. Melilit-lilit dan menekan-nekan seperti ada sesuatu yang hendak keluar. Ayahku segera tanggap. Ia pergi ke dukun bayi. Meminta bantuan agar berkenan membantu persalinan.
Beruntung, Piyem, tidak seperti orang kebanyakan. Walau semua orang, entah karena sebab apa membenci kami, tapi tidak dengan Piyem. Malam itu juga bersama ayah, Piyem menuju rumah kami. Di dalamnya, ibu sudah menanti bersama seorang tetangga yang menemani.
Pukul 02.00 dini hari. Terdengar suara gaduh di luar. Orang-orang bersenjata. Memakai seragam seperti tentara nasional. Membawa tank. Menjarahi apa saja dan menembaki siapa saja yang mereka temui. Mereka adalah sepasukan yang bertugas menjaga keamaan. Namun, bukan keamaan yang mereka wujudkan. Mereka adalah STR, tentara nasional. Namun, oleh kami mereka memiliki julukan tersendiri. Serigala. Kehadirannya hanya memangsa tak lebih dari sekedar serigala kelaparan. Selalu menciptakan rasa takut dan was-was pada kami, golongan minoritas.
Di luar begitu gaduh. Untuk menghindari suara jeritan, mulut ibu disumpal dengan kain agar tidak berteriak saat mengejan. Peluh yang menetes dari dahi dan tenaga yang diloloskan harus tertampung dalam jerit yang tertahan. Ibu sudah mendekati bukaan lima dan sepasukan penjaga keamaanan belum juga sirna.
“Pelan-pelan, Buk. Nah, bagus. Ayo dorong terus...terus... Anda pasti bisa!”
Ibuku mengikuti anjuran Piyem. Walaupun ia mendera sakit yang luar biasa. Sedang ayahku sebentar-sebentar menilik ke luar, memastikan keadaan aman dari sepasukan keamanan.
“Tenangin dirimu, Mar. Sebaiknya kita semua berdoa, memohon keselamatan,” tukas Anzi, salah satu tetangga kami.
Ayahku mengikuti anjuran Anzi. Ia lekas mengatupkan tangan dan membaca doa. Lalu kami semua berdoa dalam hati masing-masing. Dinginnya malam memeluk doa-doa kami, menjadi saksi bisu atas ketegangan kami.
Di luar, Serigala masih terdengar gaduh. Sepertinya mereka sedang memberangus salah satu gedung pertokoan milik tetangga kami. Tiga hari sekali mereka selalu ke sini, katanya mengamankan, tapi nyatanya membuat kami kelabakan dan ketakutan.  Puing-puing gedung yang  ditemukan hangus keesokan hari menjadi saksi bisu pembakaran paksa yang dilakukan oleh mereka. Setiap peristiwa itu terjadi, paginya kami selalu ditinggalkan dalam keadaan batin mendendam.
Pernah suatu ketika salah satu dari kami melakukan perlawanan. Bukannya menang, justru penyiksaan dan kematian hina yang mereka peroleh. Mereka dengan tanpa belas kasihan menyiksa dan memukul bahkan menguliti hidup-hidup siapapun yang berani melawan. Baiklah, kami memang tidak seideologi dengan mereka. Namun atas nama kemanusiaan, tidakkah mereka memiliki rasa belas kasihan?
Pukul 03.17 dini hari. Aku telah lahir. Darah dan plasenta setia menemani diriku datang ke dunia. Aku menangis sekeras-kerasnya, membelah sunyinya malam. Semua orang tersenyum lega dan bahagia. Kehadiranku disambut dengan penuh sukacita. Ayahku bergegas menilik ke luar. Takut kalau-kalau tangisku didengar oleh Serigala. Tak ada apa pun. Keadaan sepi.
“Ku rasa, mereka semua sudah pergi. Puji Tuhan.” Ayahku mengatupkan kedua tangannya.
“Semoga tangis bayimu tidak terdengar oleh mereka,” doa Anzi.
“Semoga kita semua diberi keselamatan.”
Ibu yang saat itu bermandikan peluh sedang memelukku. Tak peduli walau aku masih merah, belum dibersihkan. Aku segera dituntunnya menetek, mencecap saripati kehidupan dari buahnya. Air matanya berlinang, dan dia berucap dalam haru kebahagiaan, “Kau sungguh cantik, putriku.”
Malam sunyi kala itu menjadi saksi kelahiranku. Juga dinding rumah menyambutku dengan kehangatannya, di balik dinginnya malam yang mencekam. Empat pasang mata terfokus padaku, hanya memandangiku, makhluk yang bersemayam dalam kasih sayang rahim selama ini. Kehadiranku membawa secercah kebahagiaan bagi orang tuaku yang selama ini diliputi kesedihan dan kesusahan.
Dan tiba-tiba...
“BRAAKKKK..!!!!!”
Pintu terdobrak. Patah setengah. Terbuka. Lalu sekumpulan orang berseragam, bersenjata api, dan bertopeng memasuki rumah kami. Mereka datang dengan dalih mendengar keributan di rumah kami. Betapa tidak masuk akalnya, tangis seorang bayi, tangis suatu kehidupan, mereka samakan dengan keributan. Betapa bodohnya mereka, namun mereka tak pernah memikirkan hal itu. Mereka adalah yang paling benar di negara ini. Siapapun yang menentang, maka pilihannya hanya satu. Mati.
Kami merasakan ketegangan dan ketakutan. Empat orang harus menghadapi setidaknya lima belas tentara dengan senjata api lengkap. Ayahku maju ke depan, memohon-mohon, bahkan rela mencium satu-persatu sepatu mereka. Dengan rasa jijik mereka memandang ayahku. Lima belas tentara mengacungkan senjata api pada ayahku tanpa sedikitpun merasa tersentuh.
“Ku mohon, selamatkanlah kami. Kami berjanji tidak akan membuat keributan lagi. Kami berjanji. Ku mohon, ku mohon, tuan-tuan. Saya rela melakukan apa pun asal tuan menyelamatkan kami.” Ayahku bersujud dan menyembah-nyembah, seperti budak yang memohon-mohon pada tuannya.
Ketegangan yang menyelimuti kami kini berubah menjadi rasa takut dan was-was. Kami berempat tak bisa berkutik, selain sama-sama bersujud seperti ayah. Sesungguhnya bukan tentara yang kami hadapi, tetapi maut. Ibu dengan sisa-sisa tenaga ikut turun dari ranjang sembari menggendongku, menyembah mereka. Saat itu aku masih merah dan terus menerus menangis, merasakan ketegangan dan ketakutan dalam hati ibu.
“Diam!!!” seru salah seorang tentara.
“Diam atau ku tembak bayimu itu!” seru salah seorang lagi.
Ibu dengan paksa dan perasaan tak tega membekap mulutku dengan putingnya. Walau aku tak mau menetek, ibu memaksaku. Akhirnya, aku pun diam menetek.
Lalu, sekonyong-konyong, seluruh pasukan itu keluar rumah tanpa meninggalkan sedikitpun goresan pada tubuh kami. Meski begitu, tentu mereka meninggalkan rasa takut mendalam. Rasa takut yang begitu amat sangat, sehingga tak akan pernah terlupakan dalam sejarah napas kami. Napas kami yang waktu itu naik turun seperti orang dikejar serigala. Ya, mereka memang serigala. Serigala yang merampas kehidupan kami, kaum minoritas.
Ayah mengira kami terbebas dari ancaman. Ketika kami masih duduk dengan perasaan sedikit lega, tiba-tiba kami merasakan hawa panas. Rasa panas itu tidak datang dari dendam kami seperti ketika mereka mengata-ngatai kami. Rasa panas itu berasal dari sekeliling kami. Lalu tiba-tiba kobaran api mengelilingi kami. Api itu menjilat-jilat semakin tinggi dan semakin mendekati tubuh kami. Ayah, Piyem, dan Anzi segera mencoba mencari air atau apapun yang bisa memadamkan api. Mereka bertiga kelabakan seperti anak-anak ayam yang dikejar musang. Air yang dicari ternyata sudah kering. Tak ada apa pun yang bisa digunakan untuk memadamkan api. Semuanya terbakar. Ayah, Piyem, dan Anzi pun terbakar ketika berusaha menyelamatkan kami. Mereka hangus tepat di depan ibu, setelah sebelumnya menjerit-jerit seperti cacing kepanasan di atas jalan beraspal siang hari.
Aku menangis sekeras-kerasnya. Rasa panas yang menyelimuti tubuhku membuatku kejang-kejang. Ibu tak ingin aku mati secepat itu. Aku baru saja lahir dengan selamat beberapa menit lalu. Tak mungkin ia membiarkan aku meregang nyawa saat ini juga. Maka, ibu dengan sekuat tenaga melindungiku dari rasa panas. Ia membungkusku dengan selembar kain yang digunakan untuk persalinan. Ibu, dengan sisa tenaganya mencoba mencari tempat berlindung agar kami tidak terbakar hidup-hidup. Rasa sakit, pedih, perih, kecewa, dendam, lemah, semua rasa itu ditelannya, dibulatkan menjadi satu tekad untuk menyelamatkan diri walau harapan hidup hanya seujung jari.
“Tuhan, ku mohon selamatkan aku dan putriku. Beri aku kekuatan dan keajaiban, Tuhan. Hukum mereka yang berbuat kejam pada kami yang tak tahu apa-apa ini,” rintih ibuku kala itu.
Ibu merangkak pelan, mencoba mencari celah yang belum terkena api. Di lihatnya suatu lubang di tembok rumah kami yang belum terbakar. Lubang seukuran orang jongkok itulah yang ibu pilih untuk menyelamatkan diri.
Di luar dugaan, para tentara itu masih berjaga di luar. Siap dengan senjata api yang mengarah pada rumah, menembaki kami kalau-kalau kami tidak mati di tempat. Salah satu tentara melihat ibuku keluar rumah dengan aku di gendongan.
“Hei, mau lari ke mana kau?!” seru salah orang dari mereka.
“Kejar dia! Tembak sekalian kalau perlu.”
Lima orang tentara memburu ibu yang lari terbirit-birit. Mereka sesekali menembaki. Ajaibnya tiada satu peluru pun yang mengenai tubuh kami berdua. Lalu di pertigaan jalan, ibuku memilih belok kiri, dan masuk ke kandang ternak milik salah seorang warga. Bersama para ternak itu, ibuku bersembunyi. Untuk sesaat kami aman dari kejaran.
“Kita aman, Nak. Puji Tuhan kita aman dari kejaran mereka. Maafkan ibu, Nak. Kau dilahirkan saat kondisi sedang kacau, saat perang berkecamuk. Maafkan ibu, Nak. Ibu tak bisa memberikan kedamaian saat kelahiranmu. Tapi, ibu berjanji, ibu akan memberikan seluruh kasih sayang dan pengorbanan yang dapat ibu berikan. Seumur hidup ibu.”
“Kelak, semoga kamu mampu menjadi orang hebat yang melindungi kaum yang lemah. Kelak, semoga kamu menjadi orang yang menjaga perdamaian. Dan mulai sekarang, kamu ibu beri nama Eirene, sang dewi perdamaian yang terkenal dalam mitologi Yunani.”
***
Kisah di atas adalah sekelumit sejarah asal-usulku yang selalu diceritakan ibu saat aku kecil, ketika hendak tidur. Dan kini, di atas mimbar saat memimpin demo, semangatku kembali berkobar. Lantang aku mengucapkan slogan perjuangan, “Perdamaian harus ditegakkan!”


Tuesday, 17 October 2017

CERPEN : MAHONI

“Jikalau aku harus jatuh, aku ingin jatuh seperti biji mahoni.”
Hasil gambar untuk mahogany tree
Pohon Mahoni by treeplantation.com

Kicauan burung terdengar bersahut-sahutan di balik pohon mahoni. Suaranya begitu merdu dan bersahabat, seolah mengajak bernyanyi bersama. Lalu, lima biji mahoni kecoklatan jatuh dari buahnya, memutar-mutar indah seperti baling-baling helikopter. Disusul beberapa helai daun mahoni yang telah habis masanya. Jatuh tergeletak di tanah serupa bayi yang tak diharapkan. “Srek...srek...srek...” Suara seseorang sedang tapen[1] beras terdengar timbul tenggelam dari arah belakang rumah seseorang. Kadang terdengar gaduh, kadang terdengar sunyi. Suara-suara tersebut berpadu dengan desau daun pisang milik Cik Uni yang tertiup angin.

“Sedang tapen beras, Cik[2]?”

“Eh, Darsih. Sejak kapan kau berdiri di situ?” Cik Uni agak kaget melihat Darsih berdiri tak jauh darinya.

“Ah, Cik saja yang tidak melihat kehadiranku. Banyak las[3]nya, Cik?”

“Tidak juga. Hanya saja ini kerikilnya banyak.”

"Mau aku bantuin, Cik?” Darsih menawarkan diri, tangannya terjulur hendak membantu. Cik Uni buru-buru menarik tampahnya. Darsih merasa bersalah. “Tak usah repot-repot, Sih. Kau urus sajalah kambing-kambingmu itu.”

“Ahh, iya. Aku baru ingat kalau sedari tadi aku hendak mencari rumput, Cik. Kalau begitu pamit dulu ya, Cik.”

Darsih kemudian menyangklongkan karung rumputnya yang baru berisi separuh. Ia pun berbalik dan menembus rerimbunan pohon mahoni. Telapak kakinya yang telanjang menimbulkan suara kemresek daun-daun mahoni kering. Ia hilang dibalik rerimbunan mahoni sore itu.

Darsih berhenti di sebidang tanah yang berumput hijau. Rumput itu tidak benar-benar hijau. Di atasnya terdapat beberapa helai daun mahoni kering. Ia mendongak ke atas dan lagi-lagi melihat beberapa biji mahoni yang sedang jatuh. Ia menyibakkan daun-daun kering dan mulai menyabit rumput-rumput itu. Satu per satu batang rumput terpotong dan masuk ke dalam karungnya.

Selama menyabit, Darsih diam. Dalam kediaman dirinya ada suara yang begitu bising. Suara-suara yang tak pernah berhenti di mana pun ia berada. Bahkan di tempat sunyi sekalipun, suara-suara itu selalu mengikuti. Tak peduli ketika Darsih sedang menonton lomba panjat pinang tujuh belasan, menonton ketoprak, ikut bersorak dari kejauhan, atau pun ketika ia menjelang tidur dan hanya ditemani lampu setolop. Suara-suara itu tak pernah beranjak pergi.

“Hhhgggfff....” Darsih menghela napas. Percuma ia mencoba mengusir suara bising itu. Suara-suara itu ada dalam pikirannya sendiri. Terus menerus berkicau dan berkicau layaknya burung yang berdendang di balik rimbunnya ranting mahoni. Hanya saja, suara kicauan burung itu amat mendamaikan, sedangkan suara dalam pikirannya begitu mengganggu ketenangan. Darsih mencoba mengabaikan dengan fokus memotong rumput, memenuhi karungnya sesegera mungkin sebelum senja datang.

“Srek..srek...srek...” beberapa rumput kembali berakhir di sabit Darsih. Ia mencoba mengalihkan suara bising dalam pikirannya. Dengan keras. Sekuat tenaga. Dan.... cruk. Jemarinya malah terkena sedikit sabitan. Ia memekik pelan, lalu dengan sigap menyobek kain selendangnya untuk membalut lukanya. Darah masih terus menetes meskipun sudah dibalut kain. Ia pun memutuskan untuk pulang. Suara bising dan rasa sakit di jarinya tak mendukungnya untuk menghabisi beberapa rumput lagi.

"Sih? Kenapa dengan tanganmu?” seseorang menegurnya langsung. Darsih sedikit kelabakan setelah tahu milik siapa suara itu.

“Ah, De Pardi. Ku kura siapa. Ini, barusan tersabit sedikit,” jawab Darsih sedikit gugup.

“Owalah... kok ya ada-ada saja resiko orang cari rumput. Masih menetes darahnya?” De Pardi segera mendekati Darsih. Darsih bergidik, kemudian mencoba tenang kembali. Dengan cekatan De Pardi mencari daun petai cina muda, menguyahnya sebentar. “Buka dulu kainnya,” pintanya. Darsih membuka lilitan kain, lukanya mengeluarkan darah segar yang masih berbau besi berkarat.

Pelan-pelan, De Pardi menaruh kunyahan daun petai cina muda ke luka Darsih. Liur? Tentu saja kunyahan itu penuh liur De Pardi. Liur itu sedikit berbau tembakau. Mungkin De Pardi barusan merokok. “Sudah, sekarang kau boleh menutupnya. Nanti selepas mandi, kau obati dengan bedin ya.”

“Betadine, De.” Darsih mencoba membenarkan sembari melilitkan kembali kainnya.

“Nah, itu maksudku. Sudah, lebih baik kau pulang saja. Sudah hampir malam juga.”

“Terima kasih, De.”

“Sama-sama.”

De Pardi kemudian beranjak dengan arah yang berlawanan. De Pardi adalah tetangga dekat Darsih. Dulu ia adalah teman akrab ibunya ketika mencari rumput. Ketika mencari rumput, hiburan mereka hanyalah saling mengobrol dan bersahut-sahutan. Bagi mereka, hal itu sudah merupakan hiburan penuh kemewahan yang dimiliki hari-hari pencari rumput, hari-hari kaum petani.

Darsih segera beranjak. Ia menggendong rumputnya di pinggang dengan kain selendang. Sabitnya ia bawa dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya memegangi selendang di dada agar rumput tidak mudah lepas. Darsih kembali menembus rimbunan mahoni. Pulang ke rumah.

***

"Mak...Mak... Mak di mana?” suara seorang anak kecil memanggil-manggil ibunya. Dia membawa sebuah mainan congklak di tangan kanan dan seplastik biji srikaya. “Mak, aku pamit dulu ke rumah Sandi ya. Aku mau main congklak.”

“Di sini, Yun.  Iya. Hati-hati kalau main. Jangan pulang sampai magrib ya.”

“Siap, Mak. Assalamu’alaikum...”

Derap langkah Ayun semakin cepat. Pagi itu ia amat bersemangat. Ia menuruni tangga dan berlari menuju rumah Sandi. Congklak yang ia bawa hampir saja terjatuh saking semangatnya ia berlari.

Darsih sendiri sedang mencuci pakaian. Dan ibunya memilah sayuran.

Tiba-tiba.....

Terdengar suara gemuruh. Gemuruh yang begitu hebat hingga Darsih tak menyadari suara apa barusan. Dia tak sempat tahu. Matanya tertutup dan ia merasakan perih di pipinya. Amat sangat. Lalu sayup-sayup ia mendengar ibunya menjerit. Sekali. Lalu suara jeritan hilang bersamaan dengan kesadarannya yang terbang entah kemana.

Kelopak matanya terbuka. Setelah mengerjap-ngerjap, ia melihat orang-orang dengan luka-luka di kanan kiri. Mereka semua merintih, mengaduh.

Dikumpulkannya tenaga, lalu ia mencoba duduk.

“Dik, siapa namamu?” seseorang dengan baju tim SAR berjongkok di hadapannya.

"Darsih,” ucapnya lemah. Dirasakannya perih di pipi kanannya. Dia hampir saja menyentuhnya kalau saja tim SAR itu tidak melarangnya.

“Jangan disentuh. Luka lecetmu parah.”

"Maksudnya? Boleh aku meminta cermin?”

 "Oh, baiklah. Tunggu sebentar.” Ia berdiri dan beranjak. Lalu kembali membawa pecahan kaca ukuran telapak tangan. “Maaf, aku hanya menemukan ini. Setidaknya membantu untuk bercermin.”

Darsih mencoba menguatkan diri untuk kondisi terburuk wajahnya. Ia menghela napas pelan dan menghadapkan pecahan kaca itu ke wajahnya. Di sana, ia melihat seseorang dengan wajah sendu dan pipi terkelupas yang amat sangat menakutkan. Bahkan tulang pipinya ada yang kelihatan.

"Tidaaaakkkk...!!!!!” Darsih histeris. Kaca itu dilemparkannya jauh-jauh. “Siapa monster itu? Siapa dia!?” Darsih histeris sejadi-jadinya.
  
“Darsih, kau yang tabah ya. Ibu dan adikmu sudah pamit lebih dulu.” De Pardi kemudian datang dan menyampaikan kabar yang rasanya seperti mimpi buruk bagi Darsih.

“Tidak! Ini pasti mimpi. Kumohon bangunkan aku! Bangunkan aku dari mimpi buruk ini! Kumohon!” Darsih meronta-ronta kepada De Pardi. Meronta pula pada tim SAR. Lalu meronta pada siapapun. Dia kalut. Takut. Kacau. Gila.

“Tolong, Pak. Tolong, Buk. Tolonggg...! Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini! Tolong, tolong bangunkan aku!” Darsih kembali menjerit hingga suaranya melemah. Napasnya pun tinggal satu-satu. Ia berlari menuju ke ujung desa.

Darsih bersandar di bawah pohon asem. Tubuhnya lunglai, kakinya tak sanggup berjalan. Kenyataan ini terlalu pahit baginya. Ia tak sanggup menanggungnya. Pohon asem tempatnya bersandar pun tak bergerak sedikitpun, seakan tahu betapa hati seseorang yang sedang bersandar di bawahnya sedang kacau. Butuh ketenangan. Lalu sebuah asem yang sudah tua jatuh. Pohon itu seakan memberinya pesan bahwa segalanya akan jatuh pada masanya, segalanya akan usai pada akhirnya.

Andai waktu itu Darsih tidak kehilangan kewarasannya, ia pasti sudah menjerit. Ia terduduk di bawah pohon asem tepat di tengah-tengah kuburan. Dan senja sudah melambaikan tangan beberapa waktu yang lalu.

Tiga hari kemudian, perkampungan penuh dengan aroma amis darah kering. Darah-darah kering itu memenuhi reruntuhan bangunan. Menyeruak ke hidung melalui celah puing-puing. Lihatlah di ujung jalan sana, gedung lantai 21 itu runtuh. Rata dengan tanah. Padahal dulu, di suatu masa, gedung itu mencengkeram. Bukan hanya mencengkeram tanah, namun juga mencengkeram hak-hak rakyat kecil. Ketahuilah, di balik kegagahannya menyimpan ketegaan yang amat sangat.

Sebuah keranda melewati kuburan. Lalu bau melati beradu dengan amis darah. Keranda itu ialah ...

“Kau harus tabah, Sih. Tabahkan dirimu, Nak,” lipur salah seorang tetangga Darsih.  Ia sendiri mencengkeram tanah pemakaman yang hendak memisahkannya dengan jasad ibu dan adiknya. Darsih belum rela ditinggal dua orang yang amat sangat berarti dan dicintainya selama ini.

"Ibu.... Ibu.... Ibu... Aku tak sanggup, Bu. Jangan pergi, Bu. Ku mohon Tuhan kembalikan ibuku. Kembalikan dia, Tuhan... Huuu....huu... Hiks...hiks...”
  
Ibunya dimakamkan bersebelahan dengan Ayun. Keduanya pergi dengan damai, sedang Darsih amat terpukul. Ia begitu iri keduanya bisa bersama, sedang ia sendirian di dunia yang berbeda. Ingin rasanya ia ikut ke dalam, merelakan diri dikubur hidup-hidup. Baginya hal itu jauh lebih membahagiakan asal dapat bersama-sama dengan mereka.

“Nak, barangkali kau masih mengemban tugas dari-Nya, sehingga Tuhan belum berkenan memanggilmu. Ikhlaslah, Nak. Cobalah untuk ikhlas agar ibu dan adikmu dapat pergi dengan tenang.”

“Tidak.., Aku tak sanggup,” rintihnya lirih. Ia mengaku kalah pada kuasa Tuhan. Tanah merah itu sudah sepenuhnya menutupi jasad ibunya dan Ayun, menenangkan mereka.

Hingga adzan magrib berkumandang, Darsih masih tertunduk di pemakaman. Rupanya ia enggan pulang. Lagipula kepada siapa ia harus pulang. Ayahnya tak pernah kembali semenjak ia selingkuh lagi. Entah sudah berapa wanita yang ditidurinya. Ibunya berjuang sendiri karena si ayah tak pernah pulang. Dan ia sering melihat betapa air mata selalu menjadi teman setia ibunya. Di dalam keseharian, di setiap penghujung malam.

“Sih, ayo pulang. Ini sudah larut malam.”

De Pardi memanggil. Karena ia tak jua beranjak, De Pardi pun menyusulnya. Diulurkannya kedua tangannya dan diajaknya ia berdiri. De Pardi menuntunnya berjalan pelan-pelan. Ia begitu lemah karena belum makan sedari pagi. Namun ia mencoba kuat, setidaknya sampai di rumah.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah. “Sih, mulai sekarang tak perlu sungkan meminta bantuan padaku. Aku dan ibumu adalah teman yang sangat akrab. Ibumu juga sering menceritakan perihal dirimu jika kami sedang mencari rumput bersama-sama. Kau tahu, ibumu begitu bersemangat jika menceritakan dirimu. Dia bangga memiliki putri sepertimu.”

Darsih hanya diam. Tak berselera menanggapi. Namun dalam hati ia mengucapkan terima kasih atas niat De Pardi yang hendak memberi pertolongan.

"Sih, kau mendengarku? Ahh, aku tahu hatimu sedang bersedih. Tapi jangan khawatir, aku akan selalu menolongmu. Meskipun kau sudah tak memiliki keluarga, anggap saja aku adalah keluarga barumu.”

Akhirnya mereka sampai. “De, terima kasih atas niat membantu yang engkau tawarkan. Aku masuk dulu.”

“Tentu, tentu saja kau harus masuk. Ini sudah larut malam. Jika ada apa-apa, datang saja. Aku pamit.” De Pardi begitu baik. Darsih pun masuk ke dalam bersamaan dengan langkah De Pardi yang semakin jauh dan menghilang di balik pekatnya malam.

Semenjak kedua orang yang disayanginya pergi, De Pardi sering menyambangi rumah Darsih. Ia kadang sekadar bertandang, kadang membawa pula jajanan ringan, atau sekadar ubi kukus. Semua itu diberikan kepadanya. Ia tahu Darsih masih suka mengurung diri di rumah. Masih terpukul.

“Sih, kau di dalam? Aku membawakan singkong rebus untukmu. Bukalah pintunya.”

Suara pintu terbuka. Wajah Darsih menyembul di balik pintu. “Masuklah, De. Terima kasih sudah membawakan aku makanan.”

“Ahh, ini tak seberapa. Cuma sekadar singkong. Hehehe....”

Darsih menyuguhkan air putih, setidaknya itu yang masih ia miliki hingga sekarang. “Kau tak punya beras? Apa mau kuambilkan?”

"Tidak perlu, De. Besok rencananya aku hendak ke ladang. Agar ada yang bisa kukerjakan.”

“Sebaiknya memang begitu. Agar kau tak larut dalam kesedihan panjang.” De Pardi mengambil air putih, meminumnya. “Ahh, segar sekali. Kalau begitu aku pulang dulu ya Sih, sudah siang.”

Sudah sekitar seminggu lebih De Pardi menyambangi rumah Darsih setiap hari. Apa saja yang ia miliki dibawakannya sebagian pada Darsih. Ia menganggap Darsih sudah seperti putrinya sendiri.

Kebaikan De Pardi rupanya membawa masalah baru bagi Darsih. Orang-orang kampung menganggapnya wanita jalang. Desas-desus mengatakan bahwa apa yang menimpa dirinya dan keluarganya adalah akibat dari ulah ayahnya. Ia sebatang kara dan menderita adalah buah karma dari ayahnya yang suka main wanita dan membuat warga tidak nyaman.

“Kemarin, aku melihatnya sedang bermesraan dengan Pardi. Dasar dia wanita tak tahu malu. Sudah sering dibawakan makanan malah ngerayu. Apa tidak kasihan dengan Cik Imah, istrinya.”

“Ahh, barangkali Pardi membawakan makanan atas permintaannya.”

“Ohh, benarkah begitu? Dasar tak tahu malu.”

Sore itu ibu-ibu sedang berkumpul. Seperti biasa jika tidak ada kerjaan yang berarti. Awalnya bertiga, lalu bertambah menjadi empat, lima, hingga enam orang. Entah kenapa, kebiasaan menggunjing tetangga menjadi hal yang sangat disukai. Ada yang berbicara sambil memotong sayuran, ada pula yang sembari petan[4]. Rasanya asyik saja jika sudah membicarakan aib tetangga.

“Eh, Buk. Jangan dikira Darsih seperti itu. Hal itu belum tentu benar.” Salah satu ibu berkomentar dengan sedikit benar. Tapi ditanggapi dengan komentar semacam ini, “Eleh...eleh.... Emang situ tahu Darsih yang sesungguhnya seperti apa? Yang namanya buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya,”  yang menunjukkan bahwa ia rupanya salah bergabung dengan ibu-ibu gosip sore itu.

"Iya, Yem. Kau benar. Tapi buah gayam itu kalau jatuh nggak selalu di dekat pohonnya kok,” sahutnya tak mau kalah.

“Ya iyalah, kan dibawa kalong,” sahut ibu yang lain. Dan muncul gelak tawa di antara mereka.

“Eh, lagipula sekarang ia juga lebih sering mengurung diri di rumah. Paling dia malu.”

“Sore, ibu-ibu....”

“Soree..,” jawab ibu-ibu serentak. Salah satu ibu yang sedang dipetani  bertanya, “Eh, Minah...  Dari mana?”

“Ini, Buk, barusan beli telur di warung. Mari, Buk... Saya permisi...”

“Oh, iya iya... Mari...”

Gosip-gosip itu makin sering terdengar. Bahkan beberapa tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya enggan bertegur sapa. Dulu, sebelum gosip itu tersebar, mereka masih sering bertanya, bertukar senyum, atau sekedar menyapa. Rupanya kabar burung itu begitu kuat dan menyiksa batin Darsih. Hingga suatu kali pintu rumah Darsih diketuk malam-malam, menjelang pukul sepuluh.

“Darsih...., minta tolong buka pintunya. Sih...? Ini De Pardi.”

"Iya De, kenapa malam-malam begini ke rumah Darsih?”

“Bukain dulu pintunya, nanti aku jelaskan. Ini gawat sekali, Sih.”

“Ehh...? Iya, De. Tunggu sebentar kalau begitu.”

Darsih segera membuka pintu rumahnya. Ia melihat De Pardi yang begitu kelelahan dan ngos-ngosan. Keringatnya mengalir deras dari dahi. “Boleh aku masuk? Emm... dan minta air minum.”

 "Ohh, silakan, De. Silakan masuk.” Darsih kemudian menyilakan De Pardi dan segera mengambilkan air minum. “Kalau boleh tahu, apa yang terjadi gerangan, De? Kok sampai seperti itu?”

 “Istriku sedang marah denganku. Aku dituduhnya selingkuh dan waktu pulang tadi, aku dipukulinya. Aku pun tak diperbolehkan tidur di rumah. Padahal kau tahu sendiri hujan sepertinya mau turun.”

"Ohh....,” Darsih agak syok mendengarnya. Ia tak menduga ada saja orang yang jahat pada De Pardi. “De Pardi dikabarkan selingkuh? Dengan siapa?”

De Pardi menelan ludah. “Tak tahukah kau kabar yang sedang beredar, Sih?”

Darsih mulai murung. “Ohh, itu. Tentu saja aku tahu. Hanya saja aku tidak mau menanggapi mereka.”

“Tapi, Sih. Nyatanya mereka tak mau berhenti menggunjing kita meskipun kita tidak melakukannya. Apa kau tak sakit hati?”

“De, mungkin benar kalau ini adalah karma dari perbuatan ayahku. Mungkin memang aku yang harus menanggungnya.”

“Mana bisa begitu? Waktu kecil tidak pernah dirawat, saat dewasa harus menanggung dosanya. Hidup tidak semenderita itu, Sih.”

“Lalu aku harus bagaimana?” sesuatu yang hangat mengalir dari pelupuk matanya.

“Ahhh..... Kita tidak melakukan dituduh melakukan,” gumam De Pardi. “ Aku ada ide, bagaimana kalau kita lakukan saja?”

“Maksudnya? Lakukan apa De?”

Darsih yang memang gadis polos tak tahu maksud tersembunyi De Pardi. De Pardi pun mendekat, semakin dekat dengan tubuh Darsih. Ia kemudian memegang tangan Darsih. Sontak Darsih kaget. Sepolos-polosnya ia, ia tetap tahu etika dan batasan pergaulan laki-laki perempuan.

Darsih kemudian menghindar. De Pardi semakin gencar, mengejar. Darsih meronta sekuat tenaga. De Pardi semakin beringas dan bertenaga. Darsih menjerit ketakutan dan hampir menyerah. De Pardi semakin ingin dan bergairah. Hingga ....

“BUAKKKK....!!!!”

De Pardi jatuh di hadapan Darsih. Jidatnya berdarah dan di dekatnya terdapat muntu yang tergeletak. Rupanya Darsih telah melemparnya dengan muntu, seperti yang dikomandokan instingnya untuk mempertahankan diri. Ia segera bergegas dan pergi dari rumah selagi De Pardi masih pingsan.

Semenjak kejadian malam itu, ia kini tidak lagi seakrab dulu dengan De Pardi. Bahkan ia sekarang takut jika bertemu De Pardi. Ia tak peduli jika saat itu De Pardi sengaja atau khilaf, pokoknya sekarang ia enggan berinteraksi dengannya.

Rupanya kejadian memalukan itu tersebar pula sampai ke telinga masyarakat. Ia pun dituduh berzina, padahal ia tak melakukan apa-apa. Darsih terguncang kembali. Padahal baru sebulan kemarin keluarganya meninggalkannya. Baru sebulan kemarin pula tanah merah itu menutupi jasad ibu dan adiknya. Baginya, semua itu bahkan serasa seperti kemarin.

Namun, orang-orang seakan tak peduli. Mereka tak mau tahu soal itu. Mereka tak tahu bagaimana perasannya. Asal bukan diri mereka, kenapa harus ikut peduli. Mereka adalah potret masyarakat yang masa bodoh dan suka main sendiri, suka nuduh tanpa ada yang mau menyelidiki. Memang, suatu ketidakbenaran yang terorganisir mampu mengalahkan satu kebenaran, membuatnya kocar-kacir.

Darsih telah dikucilkan oleh sebagian besar masyarakat. Keberadaannya ada namun dianggap tiada, sudah seperti gula dalam kopi. Jika kopi pahit, gula yang disalahkan dan dicari-cari, jika manis maka kopi yang dipuji. Namun, baginya hidup memang keras. Akan ada masanya orang-orang seperti itu lelah sendiri. Ia tetap melakukan kebaikan-kebaikan yang bisa ia lakukan untuk tetangga dan masyarakat di sekitarnya.

Ia pun mengingat akan sikap Cik Uni kepadanya barusan. Cik Uni yang enggan dibantunya. Ia sedikit sakit hati, tapi mencoba untuk tidak terus-terusan memikirkannya. Sehelai daun mahoni jatuh di atas sebidang rumput yang hendak ia sabit. Angin sore yang bertiup menjatuhkan lagi beberapa daun dan biji yang sudah habis masanya. Ia mendongak. Begitu indahnya biji-biji mahoni yang jatuh berputar-putar. Ditangkapnya satu yang dekat dengannya. Darsih bergumam pelan..

“Jikalau aku harus jatuh, aku ingin jatuh seperti biji mahoni.”

Darsih tersenyum kecut.

TAMAT




[1] Membersihkan beras yang sudah digiling sebelum di masak. Tujuannya untuk menghilangkan biji yang masih ada kulitnya dan beberapa kerikil. Cara ini biasanya dilakukan oleh orang-orang desa.
[2] Panggilan untuk Bulik
[3] Biji padi di tengah-tengah beras hasil gilingan.
[4] Mencari kutu rambut

Followers