Wednesday, 31 May 2017

Tragedi Asmara Rama Sinta

“Engkau pantas dicintai, tapi hatimu tak akan mampu dimiliki oleh siapapun. Karena dalam dirimu hanya ada keraguan dan kepengecutan yang ditimbulkan orang lain.”
ilustrasi Rama dan Sinta


Masih ingat sebuah cerita tentang Rama Sinta? Ah, tentu saja kau ingat, kawan. Itu adalah cerita yang berabad-abad lamanya menjadi momok di dunia asmara.
Apakah Rama dan Sinta adalah wujud cinta sempurna?

Bagiku tidak, kawan. Cinta mereka memang telah digariskan keabadian, bahwa Rama titisan Wisnu selalu berjodoh dengan Laksmi yang menitis pada Sinta. Engkau percaya atau tidak, terserah. Tapi begitulah buku dan sejarah mengatakannya berulang-ulang.

Bagiku, melihat dari sejarah dan gubahan yang sudah bejibun versinya, cinta Rama dan Sinta adalah cinta yang tragis. Tragis karena sepertinya hanya Sinta yang berani jatuh, Rama tidak. Sinta yang telah banyak berkorban dan masih pula disalah-salahkan. Sungguh, wanita semacam Sinta adalah wanita yang hebat. Mungkin banyak juga wanita-wanita hebat yang kuat –kalau tidak mau disebut terpaksa– menanggung beban seperti Sinta ini.

Tragis lagi karena meski sudah dibuktikan berkali-kali oleh Sinta, Rama tetap tak percaya. Oh tunggu, bukan tidak percaya, mungkin Rama hanya takut dituduh tidak bijaksana. Iya, sebagai raja apa kata rakyat jika memiliki permaisuri yang sudah lama ditawan orang asing. Dan dalam reputasinya, orang tersebut mampu menundukkan banyak wanita yang levelnya di atas Sinta. Padahal, jelas di depan mata siapa saja, bahwa Sinta telah rela melompati kobaran api demi membuktikan kesuciannya. Bukankah tulusnya cinta cukup dengan saling percaya? Hmm... barangkali hal itu untuk memvalidasi kebenaran di depan rakyatnya.

Tapi Rama punya kuasa. Kenapa tak menggunakan kuasanya untuk mempengaruhi praduga raktyat Ayodya? Bukankah Anoman sudah menasihatkan padanya? Kenapa kau begitu pengecut?

Lalu, mengapa Rama mau memperjuangkan Sinta jika ia tak percaya? Dan kenapa Rama mengusir Sinta hanya karena Sinta hamil dan desas desus mengatakan itu bukan anak Rama?

Rama oh Rama, titisan Wisnu yang menderita. Titisan Wisnu yang menjadi tertawaan seluruh Ayodya, bahkan mungkin Rahwana yang telah tiada. Coba saja jika Rama mau berpikir sejenak. Kenapa pula pujaan yang diperjuangkan dengan susah payah, dengan menghancurkan seluruh Alengka yang bahkan rakyatnya tak tahu apa-apa, membawa pasukanmu yang rela mati, menumbuhkan para janda-janda yang suaminya mati berperang bersamamu, dan mengajak balatentara kera yang gagah berani. Tapi, kau justru membiarkan Sinta, menjadi terlunta-lunta. Dimana rasa cinta Rama? Atau minimal, dimana rasa kasihannya??

Aku tak hendak menghakimi Rama. Aku tak hendak menyalahkanya pula. Benar atau salah biar ditafsirkan sendiri oleh mereka yang membaca Ramayana. Hanya saja, sebagai pembaca kok ya saya jadi greget sendiri. Memang kisahnya tak bisa disamakan dengan kisah-kisah Disney yang aduhai membuai itu –dimana sang putri selalu bersama pangeran. Tapi bagiku, kok ya sampai sebegitunya. 

Kan Rama raja, punya harta punya kuasa. Kenapa tidak mempengaruhi praduga para rakyat Ayodya. Kenapa ia tak memutarbalikkan fakta seperti pemerintahan modern sekarang. Iya to, lha wong sejarah aja bisa dimanipulasi kok, masa hidup pribadi Rama sendiri dibikin sensasi jadi mlempem.

Hanya saja sebagai wanita, aku berharap Rama tak menitis lagi kepada para laki-laki di muka bumi ini. Semoga, semoga yang kemungkinan tersemogakannya hanya 1-10%. 

Tuesday, 30 May 2017

Mutiara Hikmah dan Syiar Imam Besar Sunni

Hasil gambar untuk imam syafi'i
ilustrasi Imam Syafii
            Islam telah lahir ke dunia ini sebagai rahmat untuk seluruh umat, bukan hanya kaum muslim saja. Ajarannya dibawa oleh Nabi Muhammad SAW langsung dari Allah SWT dengan perantara malaikat Jibril. Hingga sekarang, agama Islam telah dianut oleh sebagian besar umat manusia dan menjadi agama terbesar kedua setelah Kristen.
              Meluasnya ajaran Islam hingga ke sudut-sudut negeri tentu tidak serta merta. Pembaca tentu ingat bagaimana perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam mengislamkan para saudara, teman, dan umat manusia. Perjuangan yang membutuhkan waktu yang lama dan usaha yang keras.
               Ketika Nabi wafat, perjuangan dakwah pun belum usai. Para sahabat, khulafaurrasyidin, dan para imam besar melanjutkan estafet dakwah ini. Para imam besar begitu gigih memepelajari Islam hingga sampai sedetail-detailnya. Kemudian mereka menyusun buku sehingga karya-karya mereka dapat kita pelajari hingga saat ini.
                Masalah-masalah kehidupan diatur sedemikian terperinci dalam Islam. Dari waktu ke waktu, keadaan masalah tersebut tak lagi sama. Ketidaksamaan ini mencetuskan pemikiran-pemikiran dari para ahli karena sekarang kita tentu tak bisa bertanya pada Nabi Muhammad SAW. Seandainya bisa, tentu Nabi Muhammad SAW sudah membuka konsultasi online.
Siapa Imam Besar Sunni?
                Ajaran sunni ialah ajaran Ahlissunnah waljamaah, yaitu ajaran Islam yang mengacu pada Al Qur’an dan hadits yang sahih dengan pemahaman para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in. Sebanyak 90% umat Islam di dunia menganut Sunni, dan sisanya Syiah.
             Muhammad bin Idris As Syafi’i merupakan salah satu imam dalam empat mazhab sunni. Beliau bersama Hanafi, Maliki, dan Hambali mendedikasikan diri dalam masalah-masalah fiqih. Imam yang lahir di Gaza, Palestina ini memiliki pengikut sebanyak 28 % muslim di dunia, termasuk Indonesia. Sisanya menganut mazhab Hambali , Hanafi, dan Maliki.
           Imam Syafii salah satunya. Beliau bukanlah seseorang yang kaya dan terpandang, namun nasabnya masih bertautan dengan Nabi Muhammad SAW. Sejak kecil sudah yatim piatu, namun tak pernah menyurutkan cinta dan semangatnya terhadap ilmu. Asy Syafi’i sangat menyukai ilmu dan sastra. Hingga suatu ketika beliau mendapat hidayah untuk mempelajari fiqih setelah ditegur oleh sekretarisnya ketika bepergian.
               Dalam menyelesaikan masalah-masalah fiqihnya, Asy Syafi’i tak segan-segan menghabiskan sepenuh malamnya hanya untuk mencari jalan keluar setiap permasalahan-permasalahan fiqih ( Al Minsyawi, 2009: 77). Dalam mencari jalan keluar, dirinya selalu berpegang pada Al Quran dan hadits. Kitab-kitab Asy Syafi’i banyak memberikan kontribusi dalam masalah fiqih Islam, misalnya : Ar Risalah , Al Umm,  dan Al HujjahI.
            Segala kehidupan yang terjadi ini banyak sekali hikmahnya yang dapat kita petik. Hikmah-hikmah yang bertebaran itu baik yang berupa tersirat maupun tersurat. Tentu perlu pemahaman yang dalam dan bukan hanya sekilas untuk memahami hikmah apa yang dapat dipetik.
               Banyak sekali hikmah-hikmah yang dapat kitapetik dari kisah hidup para pendahulu, tanpa kita harus mengalaminya. Meskipun sebagai imam besar, Imam Asy Syafii selalu merasa tawadlu. Ketika ditanya apa kehebatannya, beliau hanya menjawab dapat memanah dengan sembilan dari sepuluh anak panah mencapai sasaran. Padahal keilmuannya sudah tak diragukan lagi. Semangatnya dalam mencari ilmu ibarat seorang ibu yang kehilangan putranya, sedangkan sang putralah satu-satunya yang dimiliki di dunia ini.

                

Naik Bus Umum? Apa Serunya?



  Pengap, berdesak-desakan, bau solar, dan berbagai hal yang tak menyenangkan. Itulah yang mungkin ada dalam pikiran kita saat mendengar kata ‘naik bus’. Yeah, tapi siapa bilang naik bus cuma itu-itu saja. Ada banyak hal yang kamu dapatin jika kamu naik bus. Hal-hal di bawah ini bakalan kamu rasain kalau kamu pernah naik bus.


Hasil gambar untuk bus Indonesia ekonomi
Salah satu bus umum antar provinsi
1.      Bau pengap.
Pengap memang tidak bisa lepas dari bus, kecuali kamu naiknya bus patas atau bus khusus pariwisata yang menggunakan AC. Bau pengap yang berkolaborasi dengan panas memang bikin kita mual dan pengen muntah.
Eittsss.... ada tapinya. Kalau kamu pernah ngerasain pengap dan nggak enak, kamu jadi bisa tambah bersyukur dong bisa naik mobil yang pake AC, ya nggak?

2.      Kapasitas yang overload
Pernah lihat kan kenapa bus kadang penumpangnya sampai bergelayut di sisi pintu depan belakang. Yah, mau bagaimana lagi, sudah penuh dan buru-buru ingin ke tempat tujuan. Jadi ya, bergelayut. Meskipun tarifnya sama dengan yang duduk.
Di sini bakalmenguji ketahanan fisik kita kalau dari awal sampai tempat tujun berdiri terus. Saya pernah lho, naik busberdiri dari Pati sampai Genuk (Semarang) gara-gara arus balik. Tapi yaaa, nikmati aja sih. Kan tantangan itu..

3.      Orang ngerokok di dalam bis
Ini yang paling bikin sebel kalau ada orang merokok dan orang itu malah duduk di samping atau di dekat kita. Uhhh, rasanya enek dan bikin dada sesek, kan?

4.      Bau yang nggak sedap
Ada-ada saja bau di bus itu, apalagi bus yang tidak memakai AC. Pas masuk, hmm, kadang bau keringat yang langsung menusuk hidung, kadang malah bau solar, kadang juga kombinasi bau-bau yang nggak jelas itu. Ihhh..., siap-siap gunakan masker rapat-rapat deh.

5.      Terombang-ambing
Ini bukan berarti terombang ambing seperti air di atas daun talas lho ya. Atau dia yang belum punya kepastian buat kamu (eh, baper deh). Maksudnya terombang ambing di sini itu bus yang kita tumpangi itu nggak semulus kalau naik mobil atau motor. Apa lagi kalau bisnya udah setengah baya dan suka terbatuk-batuk.

6.      Pengamen dan peminta-minta
Kalau kamu sering naik bus antar kota antar provinsi, pengamen dan peminta-minta sudah bukan hal yang aneh lagi. Mereka bermacam variasi dan kreatifitas. Mulai dari gaya klasik seperti mengamen pakai kicrikan, gitar, sampai biola ada. Pengemis dari yang mulai minta-minta sampai bagi-bagi amplop kosong ke penumpang biar di isi juga ada. Paling kesel kalau yang ngamen itu lagunya nyindir-nyindir ke punumpang.

7.      Orang jualan cangcimen
Hasil gambar untuk jualan cangcimen di bis
ilustrasi jualan cangcimen , sumber kaskus.co.id
Cangcimen di sini bukan sekadar kacang, kuaci, permen. Ada yang jualan aqua botol, mizon, dan minuman lain mulai dari yang biasa sampai dingin. Ada yang jualan arem-arem, pisang rebus, permen jahe, tahu, kacang telur, nagasari, jenang, dan masih banyak lagi jajan yang dibungkusi kecil kira-kira harga 2000an. Bahkan ada juga yang jualan buku mewarnai dan perlengkapan sekolah, tapi nggak sampai menjual tas, sepatu, atau seragam sih. Jadinya nanti toko berjalan dong..

8.      Tambah kenalan baru
Yaps, yang namanya fasilitas umum pasti banyak orang kan? Nggak mungkin kalau naik bus sendirian. Pastinya harus berbagi tempat duduk sama yang lain. Nah, kalau perjalanannya jauh, kadang kita bisa manfaatin waktu buat ngobrol dengan samping kita. Dengan diawali “mau kemana” dan si lawan bicara sama-sama supel atau enak buat ngobrol, tentunya kita jadi banyak pengetahuan kan?

9.      Menumbuhkan jiwa sosial
Jiwa sosial kamu yang belum tumbuh bakalan tumbuh dan yang sudah tumbuh bakalan berkembang dan seterusnya. Bagaimana tidak, di bus kalau kamu ngobrol sama samping kamu, atau minimal kamu bergabung dengan banyak orang meskipun nggak ngobrol. Jadi, sedikit demi sedikit kamu akan terbiasa dengan kondisi orang banyak.

10.  Menumbuhkan kepedulian terhadap sesama
Kok bisa sih? Ya bisalah. Begitu seringnya kamu naik bus dan seringnya kamu ketemu sama pengamen atau peminta-minta, lama-lama rasa kasihan juga bakalan muncul. Memberi uang walau cuma seribu atau bahkan lima ratus, mereka juga nggak bakalan nolak kok. Kalau nggak diberi, mereka juga nggak maksa.
Rasa peduli yang paling tinggi tuh kalau bus sesak dan disamping kamu ada simbah-simbah atau ibu-ibu tua yang nggak dapat tempat duduk, terus kamu berdiri dan mempersilakan beliau duduk. Tepuk tangan dulu dong bagi yang sudah bisa kayak gini 😀

11.  Menambah rasa syukur
Nah yang terakhir ini adalah salah satu yang akan kamu dapat dari naik bis. Di bus kamu lihat banyak hal tentunya. Orang membawa bawaan berat, bawa barang yang super susah dan banyak, pengemis, pengamen, susahnya orang jualan cangcimen, seorang ibu menggendong anak kecilnya rewel pula, dan sebagainya. Hal itu akan mengingatkan kita betapa kita harus banyak-banyak bersyukur tidak seperti mereka.

Nah, kesebelas hal itu mungkin tidak seratus persen sama dengan yang kalian alami. Selalu ada hal positif dan negatif dari setiap hal, termasuk naik bis. Hmm, gimana? Tertarik naik bis??

Monday, 29 May 2017

Kita Tak Pernah Rugi


Ilustrasi


            Sebenarnya, apa yang ada dalam kehendak Tuhan itu tidak ada yang merugikan. Hanya saja kita sebagai orang yang tidak mau dirugikan, selalu melihatnya dari kacamata keuntungan terhadap diri kita sendiri. Jadilah, kesannya diri kita ini merugi. Padahal, di balik kerugian kita, ada kuntungan bagi orang lain dan mungkin keuntungan orang lain itu merupakan rizkinya. Bukan berarti rizki/keuntungannya diambil dari kerugian orang lain! Hey, bukankah hidup ini seimbang? Ada kalanya kita untung ada kalanya kita merugi, bukan?
            Kalau misalnya rizki mereka diambil dari keuntungan kita, maka tak akan ada dokter dengan dalih ia ada karena banyak orang sakit. Bukankah setiap orang, secara kasat mata, merasa rugi dengan penyakitnya? Kalau begitu, apakah dokter merupakan orang yang rizkinya berasal dari kerugian orang lain?
            Tentu saja tidak, kawan-kawan. Komponen hidup ini saling berkaitan seperti rantai makanan. Siapa dimakan siapa bukan berarti siapa dirugikan siapa. Dengan kerugian yang ditimpakan, maka kita bisa belajar apa artinya ikhlas, apa artinya menerima, apa artinya bersyukur, dan banyak hal lain yang bisa kita dapatkan dari kerugian dalam hidup kita, tentunya dengan hati terbuka.
            Ada sebuah peristiwa yang penulis alami terkait pernyataan di atas. Peristiwa ini terjadi pada saat penulis mudik H-7 lebaran, tepatnya pada tanggal 30 Juni 2016. Penulis merupakan mahasiswi di salah satu kampus di Semarang yang hendak pulang kampung ke Kota Pensiun tercinta.
            Saat itu di siang hari yang panas terik dan tentu saja sedang berpuasa, penulis mengantre Bus Rapid Transit (BRT) Semarang di daerah Jatingaleh (ongkosnya yang murah bingitz sih, cocok buat kantong mahasiswa). Tak ada halte di sana karena sedang diperbaiki. Halte itu berada di depan sebuah Indomart. Siapapun yang hendak menumpang harus mau menunggu di depan Indomart tanpa peneduh apa pun. Bisa dibayangkan betapa panasnya.
            Untungnya ada mobil yang parkir di sana, mungkin pemiliknya sedang berbelanja di dalam. Penulis kemudian memutuskan untuk jongkok sekadar berteduh di balik mobil itu. Pandangan tak pernah lepas dari arah datangnya BRT, arah kanan. Tak jauh dari tempat penulis berlindung, ada dua orang cewek yang juga sedang mengantre BRT. Mereka berada beberapa meter di sebelah kanan penulis. Kasihan sekali mereka karena tidak dapat tempat berteduh.
            Kemudian, datang sebuah mobil dan tanpa berdosa parkir di jalur masuk ke Indomaret. Penulis merasa kesal karena keberadaan mobil itu menutupi pandangan terhadap kehadiran BRT. Akan tetapi hal itu memberikan keuntungan terhadap dua orang cewek yang sedang kepanasan tadi. Setidaknya mereka bisa berteduh di balik mobil itu. Untungnya keberadaan sepatu mereka yang terlihat dari bawah mobil bisa dijadikan acuan kalau-kalau nanti ada BRT datang.
            Dari kisah di atas, penulis menyimpulkan bahwa sesuatu yang penulis anggap merugikan bagi diri penulis, ternyata memberi keuntungan bagi dua cewek tadi. Hal di atas menunjukkan betapa Tuhan memang Mahakasih terhadap semua makhluk-Nya. Dan kita juga harus sadar diri bahwa kita hanyalah salah satu dari sekian banyak makhluk-Nya. Meskipun Mahakasih, tapi tak selamanya kita diberi enak terus, untung terus. Karena apa? Karena hidup ini seimbang.
            Jadi, kerugian kita bukanlah semata-mata kerugian kita, tetapi Tuhan hanya mengurangi nikmat kita untuk dipindahkan sementara kepada orang lain. Dengan berpikiran seperti ini, maka hati akan merasa damai, meskipun sedikit. Iya, kan?

Marhabban Ya Ramadhan! J

Stay in Pesantren #1

Suasana ngaji sima'an Kitab di PP Durrotu Aswaja Semarang
Berada di pondok itu penuh resiko. Awas, hati-hati kalau kamu nggak kuat, nggak kuat buat nggak tidur,nggak kuat buat nggak rame, nggak kuat buat nggak makan bareng, nggak kuat buat nggak nyemil, dan nggak kuat buat nggak begadang. Semua itu dilakukan dengan enjoy dan mengalir begitu saja.

Yang paling kusukai berada di pondok itu kaya gini:

  • Nggak bakalan kesepian. Jelas dong! Di mana-mana yang namanya pesantren pasti rame. Satu kamar aja ditempati banyak orang, sekitar 10-20an anak manusia, belum lagi anak yang lain (lho? Maksudnya?) Oke, lupakan.
  • Bebas dan mudah buat beribadah. Ya, karena ketika kita dipondok itu mau nggak mau kita pasti ketularan yang baik-baik, kecuali kalau emang bandel punya, itu udah beda lagi kasusnya. Bisa-bisa yang bandel malah tambah bandel juga ada. Jadi mesti hati-hati milih teman.
  • Banyak jajan. Kalau yang ini sih pas saat-saat tertentu aja. Biasanya kalau abis liburan terus pada pulang kampung, nah pas balik ke pondoknya pada bawa IN_IN alias Inuk-Inuk (baca: jajan atau camilan).
  • Saling berbagi. Di sini apapun bisa dibagi sesama teman. Nggak cuma bagi-bagi jajan, tapi juga bagi-bagi curhatan dan masalah ke beberapa temen. Kalau ini sih fine-fine aja ya, tapi kalau bagi-bagi gosip, nah itu baru berabe. Yang namanya sekumpulan cewek  kalau udah nyatu pasti bawaannya ngomong mulu dan ujung-ujungnya ngegosip.


Meski begitu nggak semua yang enak itu ada di pondok. Banyak juga nggak enaknya lho, tapi buat nggak enaknya ane posting kapan-kapan aja ya....

Kasih Tulus itu Dari Ayah

Judul Buku                 : Ayah
Pengarang                 : Andrea Hirata
Penerbit                     : Bentang-Yogyakarta
Tahun Terbit               : Mei-2015
Ukuran Buku              : 13 x 20,5 cm
Jumlah Halaman        : xx + 412 hlm
ISBN                          : 978-602-291-102-9
Harga                         : Rp 62.900,00 (cek sini)

Novel Ayah, sumber : www.bentangpustaka.com


            Seorang Ayah adalah sosok laki-laki yang tak jarang disandingkan dengan kata cuek kadang kasar dalam mendidik anaknya. Berbeda dengan jiwa ibu yang lemah lembut. Tapi itu tak semuanya, pun sebaliknya dengan ayah. Ada kalanya ayah adalah sosok yang sangat penyayang, sabar, dan sangat dirindukan.
            “Ayah” merupakan novel kedelapan yang juga menunai kesuksesan seperti novel-novel sebelumnya. Kisah yang diusung cukup mengharukan dan dramatis. Menceritakan tentang perjuangan cinta seorang Sabari kepada Marlena yang tak pernah berbalas hingga akhir hayatnya. Selain itu juga menceritakan tentang kepedihan seorang ayah yang kehilangan anaknya yang amat disayangi.
            Sabari adalah seorang pria yang jauh dari kata tampan, kontras sekali dengan orang yang dicintainya, Marlena. Lena –begitu panggilan akrabnya– begitu manis dan membuai siapa saja yang melihatnya. Sabari jatuh hati kepada Lena saat ujian masuk SMA negeri. Ia telah memperjuangkan cintanya dan tak gentar dengan cemoohan, cacian, makian, bahkan hinaan lantaran Lena tak pernah mengacuhkan cinta Sabari untuknya.
            Sabari satu SMA dengan Lena dan betapa ia tetap mencintai Lena meskipun seringkali dibuat sakit hati. Tapi, baginya, cinta kepada Lena selalu menciptakan keajaiban baru dalam hidupnya.
            Hingga akhirnya Sabari bisa menikahinya dengan suatu alasan kehamilan Lena di luar pernikahan. Sabari yang selalu sabar, ramah, dan berbudi baik kontras dengan Lena yang cantik, berjiwa pembangkang, serta keras kepala. Rumah tangga mereka tak harmonis hingga Zorro lahir dan diambil paksa oleh ibunya.
            Sifatnya yang suka tantangan, traveling, dan keras kepala membuat Lena menjalani hidupnya secara kacau bersama putranya, Zorro. Mereka tak pernah menetap lama. Lena bahkan menikah empat kali. Sabari yang ditinggal oleh anak kesayangannya menjadi setengah gila karena depresi. Kerjaannya hanya luntang-lantung di pasar dengan tampilan awut-awutan. Singkat cerita, Sabari dan Zorro bisa berkumpul kembali seperti dulu setelah berpisah delapan tahun lamanya. Meskipun Lena tetap saja tak mau tinggal bersama mereka.
            Kisah dengan latar belakang budaya Melayu telah digali oleh Andrea lewat novel-novelnya, termasuk Ayah. Ada sisi kehidupan sosial masyarakat yang selalu ingin ditonjolkan dalam kisah tersebut. Ia menggambarkan betapa Melayu adalah budaya dengan orang-orang yang ramah, setia kawan (tampak saat Tamat dan Ukun membantu Sabiri untuk mencari Lena, dan saat orang-orang yang ditemui Ukun dan Tamat saat terlunta-lunta dengan senang memberinya sedikit bantuan) dan masih memegang tinggi adat yang berlaku (tampak saat orang-orang menggunjing Lena yang suka keluyuran dan dekat dengan setiap lelaki).
            Pada awalnya sulit memahami antara kisah Amiru dan Sabari yang ditulis berseling di setiap bab. Pada akhirnya diketahui bahwa Amiru adalah Zorro, putra tiri Amirza, suami keempat Marlena.
            Andrea selalu menambahkan ilmu pengetahuan alam dan joke-joke ringan di setiap karyanya, tanpa terkecuali “Ayah”. Andrea menggambarkannya lewat tokoh yang bernama Amiru yang tertarik dengan interverensi gelombang radio. Joke ringan misalnya melalui percakapan-percakapan atau tingkah laku orang Melayu yang digambarkan dalam cerita.
            Setiap novel Andrea selalu meberikan inspirasi. “Ayah” hadir dengan ajakan agar selalu berjuang dan tak pantang menyerah serta percaya diri sebagai seorang laki-laki (karakter Sabari). Amiru yang berbakti kepada ayahnya dengan cara bekerja demi mendapat uang untuk menebus radio ayahnya yang teronggok di pegadaian demi mendengar siaran Lady Diana.

            Novel ini sangat cocok dibaca oleh para remaja dan orang tua. Sebagai remaja, kita bisa meniru perilaku Amiru dan mengerti bagaimana sudut andang orang tua terhadap anak. Sebagai orang tua, kita bisa belajar agar tangguh dan sabar seperti Sabari dan tidak seenaknya seperti Marlena.

Friday, 26 May 2017

Kembang Malam



Suasana di klub AZ malam itu sangat ramai. Beberapa laki-laki dan perempuan nampak sedang berbincang santai di bar. Ada juga yang ramai-ramai ajojing di dancefloor. Tak jarang yang haha hihi di sofa —nampak seorang pria dikerumuni oleh tiga orang LC (lady companion)— sampai -sampai sudah mengosongkan tiga botol minuman.

Aku sendiri masih duduk dengan ditemani segelas red wine  yang sudah tinggal setengah gelas. Mataku liar ke sana ke mari mencari seseorang. Dan kulihat dari arah tangga lantai dua, sosok yang kucari melambaikan tangan. Ia berjalan mendekatiku.

“Hai, lama sekali tidak berkunjung ke sini,” sapanya ramah.

“Ya, begitulah. Lagi banyak urusan.”

“Urusan apa pacar baru?” ledeknya. Ia memesan bir Corona satu gelas.

“Hahaha, tau aja kamu,” balasku, merasa tertangakap basah. “Kamu sendiri? Bagaimana?” lanjutku.

“Ya begini, seperti yang kau lihat.”

“Tak ada yang mengesankan? Atau setidaknya membuatmu betah gitu? Kan sudah dua bulan...”


“Hhhh...,” ia menghela napas, lalu menegak birnya hingga tinggal setengah. Aku pun mengikuti.

“BO gue dong, lagi bete banget nih,” pintanya. Ia bergelayut manja di bahuku.

“Kenapa? Lagi banyak masalah ya?”

“Ya, setidaknya bisa jalan-jalan. Lama nih nggak hirup udara seger.”

“Oke, tunggu sini ya.”

Aku memanggil Mami Wizzi yang kebetulan nongol di antara para tamu. Setelah tawar-menawar  seperlunya, aku diizinkan mem-BO —istilah untuk Booking Out, membawa keluar— Vitqa sampai lima jam ke depan. Asyik juga tuh.

Aku dan Vitqa keluar dari klub dan menuju parkiran. Kami belum tahu hendak kemana. Intinya jalan dulu, urusan mau ke mana dipikir sambil jalan aja.

“Aku berani jamin, lagi putus sama pacar ya?” tebak Vitqa tiba-tiba. 

Aku tak menanggapi, belum lebih tepatnya. Mobil kami meluncur keluar dari gerbang AZ. Aku masih mendiamkan pertanyaannya. Vitqa memejet tombol radio, sayup-sayup suara musik mengalun dari sana, mengiringi laju mobil kami.

“Kamu sendiri? Katanya lagi bete. Bilang aja kek kenapa?”

“Iya nih. Lagi butuh banyak duit, apalagi bokap nyeraiin nyokap sebulan lalu. Terus nyokap mulai oleng dan masuk RSJ.”

“Hah?” aku syok. “Banyak banget perubahan, padahal baru nggak ketemu dua bulan.”

“Apalah, Ren. Orang hidup mah mana tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Mungkin itu ganjaran dari dosa-dosaku kali ya?”

“Tumben ngomongin dosa, biasanya nggak tuh. Hahaha...” ledekku, tertawa garing.

“Gini-gini aku juga ngerti kali, Ren. Karma itu ada.”

“Terus, gimana? Udah dapet duitnya?”

“Lha itu masalahnya. Gue udah dapet.”

“Kok masalah?” Aku menoleh, alisku naik sebelah.

“Iya, aku dapet tawaran dari orang bule, 50 juta. Bayangin Ren, itu setara ama gaji gue sebulan! Tapi...”


“Tapi apa?”

“Aku harus lepas keperawanan. Aku nggak mau, nggak berani juga, takut.”
Aku diam. Rupanya Vitqa masih menghargai kehormatannya sebagai wanita. Ku kira selama ini dia... Ah, hampir lupa. Vitqa juga manusia, perempuan seperti pada umumnya. Mungkin orang lain memandangnya sebelah mata, tapi rupanya ia punya prinsip.

“Kamu boleh tertawa sepuasnya Ren. Silakan tertawakan aku. Wanita LC yang sehari-harinya diraba-raba, diciumi, bahkan tak jarang mempertontonkan area privatnya... masih perawan.”

“Siapa yang mau ketawa. Aku salut lagi. Hari gini masih ada LC yang punya prinsip.”
“Nggak semua LC itu sama, Ren. Dan nggak semua LC ujung-ujungnya ke seks.” 

Musik sudah berganti lagu, kini lagu Kupu-Kupu Malam mengalun.
Kami diam sejenak, menyimak bait demi bait lagu tersebut. Yang pasti, kami tenggelam dalam pikiran sendiri-sendiri.

“Persis,” gumamnya pelan, penuh penekanan.

“Apanya, Vit?” tanyaku heran.

“Banyak yang memuja, banyak pula yang menghina.”

Aku diam. Aku tahu yang dimaksud adalah dirinya. Memang kan, di adat timur seperti Indonesia, wanita seperti Vitqa dipandang hina di masyarakat; tak bermoral, merusak rumah tangga orang, menguras harta, menjadi biang penyebab penyakit seksual, pembawa malapetaka. Toh, siapa sebenarnya yang salah? Mereka hanya bekerja sebagai penghibur lelaki yang kesepian, yang penat dan bosan. Coba kalau wanita semacam Vitqa tak ada, keseimbangan tak kan tercipta bukan? Sudahlah, toh yang ada di dunia ini sudah diatur sedemikian rupa porsinya agar seimbang. Coba saja jika orang-orang sana mau melihat Vitqa dari sudut pandang yang berbeda.

“Hei, ngelamun aja dari tadi.”

Aku tersentak, lalu nyengir.

Lampu merah nyala. Di depan jalan sana, nampak empat remaja putri menyebrang sedang membawa belanjaan barang-barang bermerk, masih berseragam SMA. Duhhh, hari gini anak-anak SMA masih keluyuran.

“Lihatin apa sih, Ren?”

“Nggak kok,” aku mengalihkan pandangan pada sertir mobil. “Adikmu masih sekolah apa kuliah?” tanyaku kemudian. 

“Kenapa emang? Mau kenalan?”

“Apa?! Nggak juga kalee.”

“Dia udah kuliah, semester dua ini. Aku bersyukur bisa nguliahin dia. Moga aja dia nggak kayak kakanya, yang cuma lulus SMA dan mudah dibohongi.”

“Dia tahu kalau kamu bekerja di klub malam?”

“Nggak lah.  Dia cuma tahu kakaknya ini kerja jadi karyawan di Jakarta.”

“Iya, karyawan di klub. Nggak sepenuhnya bohong,” tambahku.

“Bisa aja kamu. Tapi bener juga sih,” Vitqa tersenyum, dua lesung pipitnya muncul, jadi tambah manis aja. Duhh, mikir apa sih aku.

Vitqa menengok arlojinya, “Kita masih punya 3 jam nih.”

“Ya udah, kamu pengennya kemana tak anterin.”

“Beneran nih?” Mata Vitqa berbinar. Aku jadi sedih, biasanya kalau BO yang nentuin kan yang mem-BO.

“Oke deh, kamu nyetir aja, aku yang nunjukin tempatnya.”

“Siap, Bos!”

“Eh, kamu belum cerita tadi? Kamu beneran putus sama pacarmu?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Dia menghianatiku. Padahal kami berencana menikah bulan depan.”

“Wah, sayang sekali.”

“Iya, dia bilang kalau dia sudah memberikan keperawanannya sama mantan pacarnya. Sayangnya si mantan nggak mau mengakui, malu.”

“Ajegile!! Wah, jahat banget tuh dua-duanya.”

“Aku nggak pernah menyangka. Ku kira dia wanita baik-baik. Secara lah ya dari keluarga baik-baik, eh nggak taunya malah begitu. Akhirnya kami putus dan nggak tahu kabar dia sekarang gimana.”

“Wah, sayang banget ya. Dia nyia-nyiain cowok baik kayak kamu. Kamu yang sabar ya, Ren.” Vitqa mengelus punggung tanganku. “Padahal aku sendiri berharap banget nemuin cowok yang bisa jagain aku.”

“Suatu saat nanti kamu pasti bakal nemuin kok, Vit.”

“Semoga.”

“Ren, aku boleh ngomong?”

“Hahaaha, ngomong aja kalee. Dari tadi juga udah ngomong.”
Vitqa nyengir, kelihatan kalau di malu. 

“Gimana kalau kamu aja yang bantu aku, Ren.”

“Emang kamu butuh berapa?”

“Empat puluh juta, buat perawatan nyokap sama biaya semesterannya adikku.” Dia terdiam sebentar, lalu dengan cepat menyambung, “Aku tahu kamu nggak semudah itu ngasih. Buat kamu... nggak papa deh aku lepas keprawanan.”
Aku mengerem mendadak. Syok. Mobil berhenti.
Menyadari suara klakson yang meraung-raung di belakang, aku pun menepikan mobil.

“Kamu gila, Vit! Nggak mungkin aku ngelakuin itu!” Aku memukul-mukul setir, kesal dengan keputusannya.

“A...aku tahu, Ren. Uang itu nggak sedikit. Makanya aku menawarkannya.”

“Bukan masalah uangnya!” Aku semakin kacau.

“Kenapa?! Aku sudah buntu, Ren! Ini jalan terakhir! Atau kamu jijik dengan aku?!” suara Vitqa makin meninggi.
Dan aku tak bergeming.

“Ya, aku tahu kamu jijik. Aku sering diraba-raba, diciumi, bahkan seluruh tubuhku sudah banyak yang melihat. Aku yakin kau pasti jijik terhadapku.”

“Ren, sekali ini saja. Setelah itu kau boleh membenciku.” 
Vitqa mendekat, mengecupkan bibirnya di pipiku. Aku memalingkan muka pada jendela, tapi ia meraih wajahku dan mengecup lembut bibirku. Diriku semakin terhanyut oleh sapuan bibirnya. Aku di ambang kesadaran. Samar-samar aku merasa tangannya menuntunku,  lalu sesuatu yang kenyal telah berada dalam genggaman.
Vitqa mendesah dan tiba-tiba aku tersentak.

“Tidak! Ini tidak benar.” Aku mulai mendapatkan kesadaranku kembali.

“Kenapa berhenti, Rendi? Mari kita lanjutkan! Ayolahhh...” Vitqa merangsek maju dan berusaha menggapaiku.
Aku memegang kedua bahunya. “Vitqa dengar! Bagaimana mungkin aku menodai seorang wanita, sedang aku sendiri tak rela pacarku ternodai!”

“Apalagi yang kau tunggu?! Dia sudah menghianatimu. Tak ada salahnya kan kau melakukan hal yang sama? Dia bisa, kau juga bisa!”

“Arrrggghhhhhhhh, tapi nggak begini caranya!!!” Aku berteriak dan menjambak rambutku sendiri. Bahkan aku merasa permata hidupku bergerak-gerak di sudut sana gara-gara aku melihat gaun Vitqa yang sedikit terbuka di bagian dada.
Vitqa menangis tersedu-sedu. Aku jadi semakin bingung. Di sisi lain aku ingin menolongnya, tapi tubuhku menginginkannya. Aku harus bagaimana? Apalagi dia menangis seperti itu. Aku paling nggak tahan lihat cewek nangis gara-gara aku.

Lalu airmata langit turun, seakan ikut bersimpati dengan apa yang Vitqa rasakan. “Dulu, dua bulan yang lalu. Aku ingat bagaimana aku bisa bekerja di sana,” Vitqa mulai bercerita, sepertinya ia mendapatkan kesadarannya kembali. “Waktu itu aku baru datang di Jakarta. Aku diusir dari tempatku bekerja karena melakukan kesalahan akibat kebodohanku. Lalu malam-malam begini, ketika hujan turun aku dikejar-kejar lima orang preman. Aku ketakutan setengah mati. Aku berlari dan terus berlari hingga kakiku berdarah-darah...” Vitqa berhenti sejenak, ia masih terisak-isak.

“Aku berlari dan tak memperdulikan kakiku. Yang kupikir saat itu aku harus menyelamatkan diri. Tak peduli apa pun. Tanpa sengaja aku masuk ke klub AZ. Aku bersembunyi di sana. Untungnya preman tadi tak melihatku.”

“Keesokan paginya aku bertemu Mami Wizzi dan sejak saat itu aku menerima pekerjaan yang ditawarkannya. Aku terima karena tak punya tempat tinggal dan bingung harus bagaimana lagi.”

Baru kali ini aku mendengar Vitqa curhat. Aku yakin dia pasti sedang kalut banget. Apalagi orang tipe Vitqa punya prinsip pantang dikasihani. Baginya, apa yang dibayarkan orang lain harus setimpal dengan jasanya. 

“Aku turut bersimpati.” Hanya kata itu yang bisa kuucapkan.

“Bagiku, hujan selalu meninggalkan dingin, ketakutan, dan kehampaan.”

“Kau benar. Meski tak selalu meninggalkan pelangi, tapi dia menumbuhkan tunas-tunas baru.” Kataku melengkapi lalu mengimbuhkan, “Senja memang sudah berpamitan dan meninggalkan udara yang menyesakkan, tapi percayalah, pagi selalu datang dengan embun yang menyegarkan.

“Masa lalu boleh kelam, tapi kita masih punya hari esok untuk memperbaiki.” Vitqa mencoba menafsirkan. 
Aku mengangguk. “Tepat sekali!” balasku sembari membenarkan atasannya agar menutupi dada.


*Tamat*

Followers